Pertamina Bina 428 UMKM Batik, Buka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas

Safinatun Najah • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 15:53 WIB
Pembatik disabilitas dalam proses produksi batik (Dok. pertamina.jatengdiy)
Pembatik disabilitas dalam proses produksi batik (Dok. pertamina.jatengdiy)

Batik tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri batik juga menjadi sumber penghasilan sekaligus ruang untuk mengembangkan keterampilan dan membangun kemandirian ekonomi.

Peluang tersebut turut didorong melalui program pembinaan PT Pertamina (Persero) yang kini menjangkau 428 UMKM sektor batik di berbagai daerah Indonesia.

Pendampingan dilakukan melalui sejumlah program, mulai dari penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk, hingga membantu memperluas akses pasar bagi para pelaku UMKM.

Program tersebut juga mendorong keterlibatan penyandang disabilitas dalam aktivitas ekonomi. Pertamina menilai pengembangan UMKM batik dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlangsungan budaya sekaligus menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih inklusif.

Salah satu contohnya terlihat pada UMKM binaan Pertamina di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Roona Batik yang dikelola Muhammad Syauki.

Baca Juga: Cara Mudah Pesan Tiket Kapal Ferry Surabaya-Balikpapan via Aplikasi DLU Ferry

Usaha tersebut berkembang menjadi bisnis fesyen berbasis batik dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 5.000 lembar per bulan. Omzet yang dihasilkan disebut berada di kisaran Rp100 juta setiap bulan.

Dari total 18 pekerja yang terlibat dalam kegiatan produksi, sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa industri batik dapat menjadi ruang kerja yang terbuka bagi masyarakat dengan latar belakang maupun kemampuan yang beragam.

Tidak hanya memperoleh penghasilan, para pekerja juga memiliki kesempatan mengasah keterampilan melalui berbagai tahapan produksi batik. Keahlian tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kemandirian mereka dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

Dorong UMKM Sekaligus Lestarikan Batik

Pembinaan terhadap UMKM batik tersebut dilakukan bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober.

Pertamina menyebut program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian batik sebagai warisan budaya sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah Musik Hip-Hop, Suara Jalanan yang Jadi Bahasa Dunia

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam ekosistem UMKM menunjukkan bahwa nilai inklusivitas dapat tumbuh dari kegiatan ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian. Inilah semangat yang terus kami dorong melalui pembinaan UMKM Pertamina," katanya.

Menurut Pertamina, pembinaan UMKM tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas bisnis. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lapangan kerja, mendorong kewirausahaan, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta mengembangkan sektor industri kreatif.

Dengan demikian, batik diharapkan tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi terus berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang mampu memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

 

Editor : Bahana.
UMKM batik batik Yogyakarta Roona Batik pertamina penyandang disabilitas