Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menyaksikan Pengadilan Kuno di Huta Siallagan

Wulan Destiana Maharani • Selasa, 14 Mei 2024 | 04:06 WIB
Huta Siallagan, merupakan salah satu perkampungan kuno yang menjadi jujukan wisatawan.
Huta Siallagan, merupakan salah satu perkampungan kuno yang menjadi jujukan wisatawan.

RADAR MALIOBORO- Gapura dengan tulisan Huta Siallagan ini membuat Anda serasa kembali ke masa lalu. Rumah-rumah Bolon berjajar dan orang-orang masih ditinggali.

Kursi-kursi disusun melingkar di tengah desa. Di situlah tempat  persidangan  Huta Siallagan yang dipimpin oleh raja.

Batak merupakan salah satu suku di Indonesia yang menggunakan marga sebagai lambang kekerabatan. Huta atau kampung biasanya diberi nama berdasarkan nama marga untuk menunjukkan kampung itu milik siapa. Seperti yang Anda bayangkan, Huta Siallagan berarti kampung bagi keluarga Siallagan.

Baca Juga: Cocok untuk Healing! Inilah Wisata Alam Jawa Tengah yang Indah dan Menenangkan

Saat Jawa Pos berkunjung, Raja Siallagan ke-17, Gading Jansen Siallagan menyambutnya dan menjadi pemandunya. Dia memimpin kelompok itu ke tempat terbuka. Untuk menyambut pengunjung, mereka diajak ke manator, tarian khas batak. “Kami akan menari dengan anak raja bernama Manggale,” katanya.

Yang menyambut mereka bukanlah putra mahkota, melainkan patung kayu berbentuk laki-laki dengan berbaju ulos.

Sebelum Jansen mulai menari, dia memberi tahu Raja Rahat bahwa dia kehilangan putranya dalam perang. Manggale diutus untuk menjadi panglima perang, tapi tidak pernah kembali. Raja sangat khawatir sehingga dia  jatuh sakit. Akhirnya atas saran tabib, orang-orang tersebut membuat sebuah patung. Patung ini dirancang semirip mungkin dengan Manggale.

Baca Juga: Wajib Dicoba, Ternyata Empat Buah Ini Dapat Membantu Mengontrol Gula Darah

Patung tersebut kemudian digunakan sebagai alat pemanggil roh Manggale, dan  bergerak sendiri saat musik dibunyikan. Seperti menari. Patung  ini dinamakan Sigale-gale.

“Kalau yang tidak bergerak sendiri, tapi ada orang di belakangnya yang menariknya dengan kayu,” kata Jansen.

Perjalanan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah bolon. Yakni, jenis rumah panggung  berdinding kayu dan beratap jerami. Saat ini atapnya sudah diganti dengan bahan yang tidak mudah terbakar. Pintu rumahnya kecil, sehingga tamu  masuk dengan membungkuk hormat kepada pemilik rumah.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Kedondong, Dapat Memperkuat Imunitas Hingga Mampu Meningkatkan Fungsi Jantung

Lalu, dibagian depan pasti ada hiasan cicak menghadap ke empat payudara. Menurut Jansen, cicak melambangkan orang Batak yang seperti cicak, bisa hidup dimana saja. Sedangkan payudara kini menjadi simbol kemakmuran.

Perbedaannya ada di rumah raja. Kolong rumah raja Itu juga berfungsi sebagai penjara. Selain itu, tangga masuknya didesain berbentuk tangga dengan menggunakan batu utuh yang diukir menyerupai tangga.

Di halaman rumah raja terdapat tempat persidangan. “sidang dihadiri oleh raja, permaisuri, para penasihat raja, orang-orang seperti pengacara terdakwa, dukun, dan algojo,”kata Jansen. Bagi penghianat atau musuh raja, bersiaplah untuk mendapat hukuman yang pedih. ***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Huta Siallagan #pengadilan #wisata