Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tugu Jogja 360° Sejarah Simbol Kota Jogja, Banyak Dikunjungi Wisatawan Luar Daerah

Wulan Destiana Maharani • Jumat, 14 Juni 2024 | 04:47 WIB
Ilustrasi Tugu Jogja. (YogYes.com)
Ilustrasi Tugu Jogja. (YogYes.com)

RADAR JOGJA - Tugu Jogja mempunyai landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen tersebut tepat berada di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad dan memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman Sejarah kota Yogyakarta.

Tugu Jogja  didirikan sekitar setahun setelah berdirinya Keraton Yogyakarta. Pada saat didirikan, bangunan ini secara tegas menggambarka Manunggaling Kawula Gusti, yaitu semangat persatuan rakyat dan penguasa dalam melawan penjajahan.

Baca Juga: 5 ABG Perempuan yang Olok-olok Anak Palestina Minta Maaf, Ngaku Tak Nyangka Bakal Viral

Semangat persatuan  yang disebut golong gilig terlihat jelas pada bangunan tugu yang dinamakan Tugu Golong-Gilig karena tiang-tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat).

Secara rinci, saat pertama kali dibangun bangunan Tugu Jogja  berbentuk  tiang silinder yang mengerucut ke arah atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu  awalnya mencapai 25 meter.

Semuanya berubah pada  10 Juni 1867. Gempa yang melanda Yogyakarta menyebabkan bangunan tugu runtuh. Runtuhnya tugu dapat dikatakan merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar  tercermin dalam pembangunan tugu.

Baca Juga: Jarang Diketahui, Ini 6 Manfaat Daun Kari untuk Kesehatan Tubuh, Salah Satunya Dapat Mencerahkan Kulit

Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889 ketika pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat berbentuk persegi dengan tulisan di setiap sisinya yang dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi tersebut. Bagian puncak tugu tidak lagi berbentuk lingkaran, melainkan berbentuk kerucut  runcing. Ketinggian bangunan juga dikurangi menjadi  hanya  15  atau 10 meter lebih rendah dari bangunan aslinya. Sejak  itu, monumen ini  juga dikenal dengan nama De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk melemahkan persatuan antara rakyat dan Raja. Namun perjuangan selanjutnya antara rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, dapat diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.

Baca Juga: Ini Dia 3 Rekomendasi Tempat Ngopi di Jogja yang Hits

Jika Anda ingin melihat Tugu Jogja sepuasnya sambil mengingat makna filosofisnya, terdapat bangku yang menghadap ke tugu di sudut Jl. Pangeran Mangkubumi. Waktu terbaik untuk berangkat adalah antara jam 5 pagi dan 6 pagi, saat udara masih segar dan  lalu lintas mobil sepi. Sesekali Anda akan disambut dengan senyuman ramah oleh para loper koran yang datang ke kantor  sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.

Begitu identiknya Tugu Jogja identik dengan kota Yogyakarta,  banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin itu juga sebagai ungkapan sayang terhadap Kota Yogyakarta yang akan segera ia tinggalkan, sekaligus janji bahwa  ia pasti akan kembali mengunjungi ke kota tercinta ini suatu saat nanti.***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#wisatawan #tugu jogja #jogja