RADAR MALIOBORO – Jika kamu berencana melakukan perjalanan wisata religi, maka Kota Semarang bisa menjadi tujuan.
Kota ini terkenal dengan berbagai destinasi wisata religi, salah satu yang paling terkenal adalah Pagoda Avalokitesvara.
Keberadaan pagoda di Semarang bukanlah hal baru, mengingat kehadiran etnis Tionghoa telah ada di kota ini selama berabad-abad.
Terletak berdampingan dengan Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, tepatnya di dapen Markas Kodam IV Diponegoro.
Dibangun pada bulan November dan di resmikan pada 14 juli 2005 oleh Gubernur Jawa Tengah ke-12, yakni bapak Mardiyanto.
Pagoda ini tercatat dalam rekor MURI tahun 2006 menjadi pagoda yang tertinggi di Indonesia, selain itu memiliki tampilan unik dengan arsitektur yang menawan.
Memiliki tujuh tingkat yang masing-masing melambangkan tahapan spiritual menuju pencerahan, pagoda ini memiliki ketinggian mencapai 45 meter.
Setiap tingkatnya dihiasi dengan patung-patung Buddha dan ornamen khas Tionghoa, yang menambah keindahan serta keagungan pagoda ini.
Menariknya, material bangunan seperti genteng, kramik, aksesoris dalam ruangan, kolam air mancur, hingga patung burung Hong Da Klin, semuanya diimpor langsung dari Cina.
Pada awalnya, pagoda ini merupakan tempat ibadah bagi umat Buddha dan sering menjadi tempat pelaksanaan berbagai upacara keagamaan, seperti Waisak dan Tahun Baru Imlek.
Namun kini Pagoda Avalokitasvera juga sering dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai latar belakang yang ingin menyaksikan kemegahannya.
Pengunjunga dapat menikmati keindahan pagoda sambil mengenal tentang budaya dan tradisi Buddha.
Pagoda ini dikenal juga dengan nama Pagoda Dewi Kwan Im, nama ini dipilih karena terdapat patung Dewi Kwan Im yang akan menyambut saat berkunjung.
Selain itu, pagoda ini juga sering disebut sebagai Pagoda Metakaruna atau Penoda Cinta Kasih sebagai penghormatan kepada Kwan Sie Im Po Sat, sosok Dewi cinta kasih.
Di pagoda ini pengujung hanya diperbolehkan masuk pada lantai satu dan diharuskan melepas alas kaki, untuk menjaga kebersihan.
Berkunjung ke pagoda ini mengajarkan keheningan berwisata, karena lokasi ini merupakan tempat beribadah.
Setelah menaiki tangga, pengunjung akan melihat relief hewan berbentuk ular, babi, serta ayam yang harus diinjak. Relief di pintu masuk ini sengaja dibuat untuk diinjak.
Filosofinya adalah, ayam merupakan simbol keserakahan, babi simbol kemalasan, dan ular simbol dari kebencian.
Dengan harapan setelah menginjaknya, pengunjung yang datang ke pagoda ini dapat meninggalkan ketiga sifat buruk tersebut.
Terdapat sekitar 30 patung di dalam pagoda ini, yang digunakan untuk tempat pemujaan.
Salah satunya di bangun patung Bodhisattva Avalokitervara yang berdiri kokoh, umat Buddha biasa melakukan Ritual Tjiam Shi di pagoda ini.
Ritual ini dilakukan untuk mengutahui nasib seseorang, pegunjung juga dapat melakukannya dengan menggoyangkan bambu-bambu yang diberi tanda hingga salah satunya terjatuh.
Setelah itu pengunjung dapat meminta petugas pagoda untuk membacakan nasib ramalan Tjiam Shi.
Di halaman pagoda, terdapat patung Siddhartha Gautama yang sedang duduk di bawah pohon Bodhi yang teduh.
Disetiap dahan pohon terdapat pita merah bertuliskan huruf mandarin, yang biasanya berisi pengharapan dari pengunjung yang datang ke pagoda ini.
Sementara di area belakang terdapat patung Buddha berbaring dengan warna coklat serta pakaian dan tubuh berwarna emas.
Pagoda ini dianggap sebagai Metta Karuna, yaitu bangunan suci yang merupakan wujud cinta kasih dari Buddha.
Pagoda ini menjadi simbol kerukunan dan persatuan serta cinta kasih untuk memperkuat tali persaudaraan antarumat beragama.
Jika ingin berkunjung, pagoda ini buka setiap hari mulai dari pukul 07.00 - 21.00 WIB. (Indah Wahyuni Saputri)
Editor : Meitika Candra Lantiva