RADAR MALIOBORO - Candi Gampingan, yang terletak di Dusun Gampingan, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Adalah salah satu peninggalan bersejarah agama Buddha.
Situs ini memiliki kedalaman 120 cm di bawah permukaan tanah, mungkin akibat penimbunan material vulkanik zaman dahulu.
Penemuan Candi Gampingan pada Juni 1995 oleh Sarjono.
Saat menggali tanah untuk membuat bata di tanah milik Mulyo Prawiro, menjadi titik awal ekskavasi penyelamatan yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta).
Ekskavasi dilakukan dalam tiga tahap antara 1995 dan 1997.
Hasil ekskavasi mengungkapkan bahwa di Situs Candi Gampingan terdapat tujuh candi yang terbuat dari batu putih, meskipun dalam kondisi tidak utuh.
Salah satu struktur yang menonjol adalah Candi Induk berukuran 4,64 meter x 4,65 meter, yang menyimpan tiga arca penting:
Dhyani Buddha Vairocana dari perunggu, Jambhala, dan Candralokesvara dari batu andesit.
Selain itu, ditemukan juga fragmen arca dari keramik, miniatur benda emas, dan fragmen gerabah.
Fragmen arca yang paling menonjol ditemukan dalam sumuran Candi Induk, menampilkan bagian dari arca Buddha Aksobhya, yang menggambarkan sikap tangan Bhumisparsamudra untuk tangan kanan dan Dhyanamudra untuk tangan kiri, melambangkan panggilan bumi sebagai saksi dan semadi.
Candi Gampingan, dengan latar belakang agama Buddha dan pemujaan utama terhadap Dewa Jambhala, serta pengaruh aliran Tantrisme dalam Buddha Mahayana, menunjukkan karakteristik arsitektur candi abad ke-9 Masehi.
Nama “Gampingan” diambil dari lokasi penemuan candi tersebut, di Dusun Gampingan, yang dibatasi oleh Dusun Somokaton, Monggang, Cepokosari, dan Madugondo.
Jambhala sendiri adalah Dewa Kekayaan dan dalam mitologi Hindu, Jambhala dikenal sebagai Kubera.
Dewa Jambhala merupakan dewa yang memiliki kedudukan setara dengan Dhyani Boddhisatwa.
Dewa Jambhala juga merupakan istadewata atau dewa yang dipuja secara personal karena mitologinya sebagai dewa kemakmuran, dewa kekayaan dan sebagai dewa penjaga dharma.
(Rinda Martisa Fiorentina)
Sumber: Dikutip dari Kebudayaan Kemdikbud dan Jogjacagar
Editor : Iwa Ikhwanudin