RADAR MALIOBORO - Pernah mendengar nama Cepot? Nah tokoh tersebut adalah salah satu karakter dari wayang golek. Wayang golek sendiri adalah seni pertunjukan boneka tradisional yang berasal dari Jawa Barat, Indonesia. Dikenal sebagai "rod puppets" atau boneka kayu, wayang golek biasanya dipentaskan dalam Bahasa Sunda dan mengisahkan cerita dari epik Mahabharata dan Ramayana. Menariknya, kesenian budaya wayang golek ini masih populer hingga sekarang walaupun ditengah modernisasi yang massif.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai wayang golek, tulisan berikut akan membahas 5 fakta unik yang harus kamu ketahui agar menjadi generasi peduli tradisi,
1. Asal usul wayang golek
"Wayang golek" berasal dari kata "golek," yang berarti boneka kayu, mencerminkan bahan pembuatan wayang ini. Wayang golek berasal dari tradisi Sunda di Jawa Barat, dengan bahan baku wayang yang terbuat dari kayu maka akan menghasilkan bentuk tiga dimensi. Berbeda dengan wayang kulit yang dua dimensi, wayang golek memberikan dimensi tambahan yang memungkinkan gerakan lebih dinamis.
Tokoh yang pertama kali mengenalkan kesenian ini adalah Sunan Kudus yang memanfaatkan eksistensi wayang golek sebagai media penyebaran agama Islam pada 1583 silam. Beliau membuat setidaknya 70 buah wayang dari kayu yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai tokoh dalam pagelaran.
Kisah yang dibawakan erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari berikut petuah dan nilai ajaran agama Islam dan. Tak ketinggalan, terdapat humor yang membuat penonton tidak ingin beranjak.
Saat Panembahan Ratu (1640-1650) yang merupakan cicit dari Sunan Kudus memimpin Kesultanan Cirebon, Wayang Golek Cepak mulai dipentaskan di Tanah Parahyangan. Selanjutnya saat pemerintahan Pangeran Girilaya (1650- 1662), Wayang Golek Cepak semakin popular di kalangan masyarakat.
Kesenian ini pun mulai tersebar masif ke seluruh penjuru Jawa Barat sejak dibukanya De Grote Postweg (Jalan Raya Daendels). Perjuangan tidak berhenti. Bupati Bandung ke-6, Wiranata Kusumah III (1829-1846) turut andil dalam perkembangan bentuk Wayang Golek.
2. Tokoh-tokoh wayang golek
Cerita wayang golek sering kali mengadaptasi epos India, seperti Mahabharata dan Ramayana, tetapi juga mencakup cerita-cerita lokal dan tokoh-tokoh yang unik bagi tradisi Sunda, seperti Cepot, Dawala, dan Gareng, yang merupakan tokoh-tokoh punakawan. Berikut adalah beberapa contoh tokoh wayang golek,
Baca Juga: 6 Tempat Makan Nashville Chicken Paling Populer di Jogja, Mana yang Paling Worth It?
Hanoman : Kera sakti yang terkenal dengan kekuatan dan kesetiaannya, putra Batara Bayu dan Anjani.
Arjuna : Pahlawan utama yang dikenal sebagai ksatria sakti dan tampan, sering terlibat dalam pertempuran.
Aswatama : Anak Resi Drona, dikenal karena keberanian dan kekuatannya, serta terlibat dalam konflik antara Pandawa dan Kurawa.
Gatot Kaca : Putra Bima, dikenal karena kekuatan luar biasa dan kemampuan terbang.
Semar : Tokoh punakawan yang berfungsi sebagai penasihat dan sering memberikan nasihat bijak dengan humor.
3. Jenis-jenis wayang golek
-Wayang Golek Purwa: Mengadaptasi cerita dari epos Mahabharata dan Ramayana, yang telah mengalami modifikasi untuk memasukkan elemen-elemen lokal Sunda. Tokoh-tokoh punakawan seperti Cepot, Dawala, dan Gareng menjadi elemen penting dalam cerita.
-Wayang Golek Menak: Mengadaptasi cerita dari tradisi Islam, seperti cerita Amir Hamzah dan para pahlawan Islam lainnya. Wayang golek menak lebih menekankan pada penyebaran ajaran Islam dan nilai-nilai moral.
-Wayang Golek Cepak: Lebih dikenal di daerah Cirebon, Jawa Barat, wayang golek ini menampilkan cerita sejarah dan legenda lokal, dan memiliki karakteristik visual yang berbeda dengan wayang golek lainnya.
-Wayang Golek Modern: Menggabungkan teknologi baru dalam pertunjukan, seperti efek pencahayaan dan asap.
-Wayang Golek Gaya Daerah: Variasi berdasarkan daerah, seperti gaya Sunda, Yogyakarta, Surakarta, Kebumen, dan Tegal, masing-masing dengan cerita khasnya sendiri.
4. Dalang dan musik pengiring
Dalang memainkan peran penting dalam pertunjukan wayang golek. Selain menggerakkan boneka, dalang juga bertanggung jawab untuk mengatur alur cerita, dialog, dan interaksi dengan penonton. Dalang yang terampil juga menggabungkan humor, kritik sosial, dan pesan moral dalam pertunjukan.
Pertunjukan wayang golek diiringi oleh gamelan degung, yang terdiri dari instrumen-instrumen khas Sunda seperti saron, kendang, dan suling. Musik ini membantu membangun suasana dan mendukung narasi cerita.
5. Diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO
Keunikannya membuat seni asli Indonesia ini berhasil memikat UNESCO untuk menetapkannya sebagai Warisan Budaya Dunia yang Tak Ternilai dalam Seni Bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 7 November 2003.
Oleh karena itu wayang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan dan penyebaran nilai-nilai moral serta ajaran agama. Cerita dalam wayang seringkali memuat pesan-pesan etis dan filosofis. ***
(Rumyanah Irvadia)
Editor : Iwa Ikhwanudin