RADAR MALIOBORO - Rakai Pikatan adalah Raja Medang atau Mataram Kuno ketujuh yang memerintah sekitar tahun 847–856 Masehi. Ia menggantikan Rakai Garung dan kemudian dilanjutkan oleh Rakai Kayuwangi.
Rakai Pikatan dikenal sebagai seorang pangeran dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Siwa, sementara Wangsa Syailendra yang berkuasa di Jawa pada masa itu adalah pemeluk agama Buddha.
Putri Pramodawardhani adalah putri dari Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra, yang menyelesaikan dan meresmikan Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia dan situs sejarah kebanggaan Indonesia.
Meskipun berasal dari dua wangsa yang adalah notabene adalah lawan politik dan menganut agama yang berbeda, cinta antara Rakai Pikatan dan Pramodawardhani tumbuh dan membawa dampak besar dalam sejarah Mataram Kuno.
Konon, Pramodawardhani berkerabat dekat dengan Raja Balaputradewa dari Kerajaan Sriwijaya. Pramodawardhani dan Balaputradewa adalah saudara beda ibu yang menjadikan keduanya saudara tiri, ibu dari Balaputradewa adalah Dewi Tara.
Balaputradewa sendiri tidak menyukai atau menyetujui pernikahan Pramodawardhani dengan Rakai Pikatan yang baginya hanya akan kembali memperkuat kedudukan wangsa Sanjaya.
Oleh sebab itu, terjadilah perang sipil yang berakhir dengan kekalahan dari Balaputradewa yang menyebabkan dia memutuskan untuk menyingkirkan diri ke Sumatera.
Meski kalah, Balaputradewa pun menjadi Maharaja di tanah asal sang ibu dan melalui garis darah ibunya. Balaputradewa merupakan penguasa Sriwijaya terbesar yang membawa kerajaan itu ke puncaknya.
Namun, status dan hubungan darah antara Pramodawardhani dan Balaputradewa menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli dan sejarawan, bahkan ada yang menyebutkan bahwa Balaputradewa sebenarnya adalah paman dari Pramodawardhani.
Candi Plaosan sendiri adalah simbol harmoni antara agama Hindu dan Buddha di masa itu, sekaligus menjadi contoh nyata dari kehidupan lintas agama dan keindahan dalam perbedaan.
Terletak di Dusun Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kompleks percandian ini terdiri dari dua bagian utama: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Arsitektur candi ini terinspirasi dari Prambanan dan Borobudur, mencerminkan perpaduan gaya Buddha dan Hindu.
Dibangun pada abad ke-9, Candi Plaosan adalah salah satu warisan monumental yang ditinggalkan oleh Rakai Pikatan dan Pramodawardhani.
Mereka berhasil mengelola kompleks candi kembar yang kini berdiri sejajar dengan bangunan-bangunan monumental Hindu-Buddha lainnya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Sewu.
Warisan toleransi dan keharmonisan mereka tetap terlihat hingga kini melalui kemegahan Candi Plaosan. Candi ini menunjukkan bahwa keberagaman telah menjadi bagian integral dari tanah air kita sejak dahulu, dan seharusnya menjadi elemen indah yang mempererat kita, bukan memisahkan.
(Rinda Martisa Fiorentina)
Sumber: berbagai sumber