Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pahlawan dan Alam: Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro Melawan Belanda dan Pesona Gua Selarong di Bantul

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 1 Agustus 2024 | 22:11 WIB
Pangeran Diponegoro, Gua Selarong serta air terjunnya. (foto: Google/tic.bantulkab.go.id, pariwisata.bantulkab.go.id)
Pangeran Diponegoro, Gua Selarong serta air terjunnya. (foto: Google/tic.bantulkab.go.id, pariwisata.bantulkab.go.id)

RADAR MALIOBORO - Gua Selarong, atau yang juga dikenal sebagai Gua Diponegoro, adalah destinasi wisata alam dan religi yang terletak di Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gua ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita heroik perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.

Pada tanggal 21 Juli 1825, pasukan Belanda yang dipimpin oleh asisten Residen Chevallier mengepung rumah Pangeran Diponegoro di Tegalrejo dengan tujuan menangkapnya. Namun, Pangeran Diponegoro berhasil melarikan diri dan menuju ke Gua Selarong, yang telah dipersiapkan sebagai markas besar gerilya. Lokasi strategis Gua Selarong di kaki bukit kapur, sekitar 9 km dari Kota Yogyakarta, menjadikannya tempat ideal untuk berkumpulnya para bangsawan dan pengikut Pangeran Diponegoro.

Di Selarong, banyak bangsawan dari keraton Yogyakarta yang bergabung, termasuk anak cucu Sultan Hamengkubuwono I, II, dan III. Di sinilah terbentuk pasukan-pasukan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, dan Pangeran Panular.

Pangeran Diponegoro memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyudo, dan Honggowikromo untuk memobilisasi penduduk desa sekitar Selarong dan bersiap melakukan perang. Pada tanggal 31 Juli 1825, Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi menulis surat kepada masyarakat Kedu, mengajak mereka bersiap menghadapi Belanda.

Di Selarong, beberapa batalyon dibentuk, dipimpin oleh Ing Ngabei Joyokusumo, Pangeran Prabu Wiromenggolo, dan Sentot Prawirodirjo. Sepanjang bulan Juli 1825, hampir seluruh pinggiran kota diduduki oleh pasukan Diponegoro.

Pada tanggal 7 Agustus 1825, pasukan Diponegoro dengan sekitar 6.000 orang menyerbu Yogyakarta dan berhasil menguasainya. Namun, mereka tidak menduduki kota tersebut, dan Sultan Hamengkubuwono V diamankan di Benteng Vredeburg.

Peristiwa pada 21 Juli 1825 di Yogyakarta sampai ke Komisaris Jenderal van Der Capellen pada tanggal 24 Juli 1825. Letnan Jenderal De Kock kemudian diangkat sebagai komisaris pemerintah untuk Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Jenderal De Kock mencoba mengajak Pangeran Diponegoro berdamai, namun ajakan tersebut ditolak. De Kock memerintahkan penyerbuan ke Selarong, tetapi ketika pasukan Belanda tiba, pasukan Diponegoro telah berpencar. Selanjutnya, Diponegoro mendirikan markas di Dekso dari 4 November 1825 hingga 4 Agustus 1826.

Selama di Selarong, pasukan Belanda melakukan tiga kali penyerangan: pada 25 Juli 1825 dipimpin oleh Kapten Bouwes, di Logorok dekat Pisangan Yogyakarta, yang mengakibatkan 215 pasukan Belanda menyerah; serangan kedua pada September 1825 dipimpin oleh Mayor Sellwinj dan Letnan Kolonel Achenbac; dan serangan ketiga pada 4 November 1825. Setiap kali Belanda menyerang Selarong, pasukan Diponegoro menghilang di goa-goa sekitar Selarong.

Pangeran Diponegoro sendiri akhirnya ditangkap oleh Jenderal De Kock pada 28 Maret 1830 di Rumah Residen Kedu Magelang, lima tahun setelahnya.

Kini, Gua Selarong menjadi objek wisata bersejarah di Kabupaten Bantul. Dengan suasana bukit kapur dan pohon rindang, gua ini menawarkan keindahan alam yang menenangkan. Gua Selarong memiliki dua gua utama: Gua Kakung di sebelah barat yang digunakan sebagai tempat peristirahatan Pangeran Diponegoro, dan Gua Putri di sebelah timur yang digunakan oleh RA Ayu Ratnaningsih, istri Diponegoro. Di sekitar gua, terdapat air terjun yang semakin indah saat musim penghujan.

Baca Juga: Made And The Lost Spirit: Film Animasi Anak Bangsa yang Menakjubkan, Tak Kalah Keren dari Disney

Untuk menikmati keindahan Gua Selarong dan napak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro, pengunjung hanya perlu membayar tiket sebesar Rp. 6.000. Gua ini dibuka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada transportasi umum yang menuju lokasi wisata ini.

Gua Selarong bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga tempat untuk belajar dan menghargai sejarah perjuangan pahlawan Indonesia. Bagi yang mencari pengalaman wisata yang mendalam dan bermakna, Gua Selarong adalah pilihan yang tepat.

(Rinda Martisa Fiorentina)
Sumber: pariwisata.bantulkab.go.id dan berbagai sumber.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#gua selarong #wisata jogja #pangeran diponegoro #Wisata Bantul #pajangan #pangeran #diponegoro