Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

KULINER JOGJA: Mengenal 5 Fakta Menarik Dawet Sambal Kulon Progo, dari Kuliner Legendaris hingga Menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 9 Agustus 2024 | 12:09 WIB
Kuliner dengan cita rasa unik, pedas dan manis berpadu dalam semangkuk Dawet Sambal Khas Kulon Progo  (instagram.com/omah.ohana)
Kuliner dengan cita rasa unik, pedas dan manis berpadu dalam semangkuk Dawet Sambal Khas Kulon Progo (instagram.com/omah.ohana)

RADAR MALIOBORO – Dawet Sambal, salah satu kuliner legendaris khas Kulon Progo yang tergolong unik dan tidak biasa bagi sebagian orang. Akan tetapi, justru berbeda bagi masyarakat Kulon Progo, kuliner ini sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya di daerah mereka. 

Pada umumnya, makanan dawet tergolong minuman yang manis di lidah. Berbeda jika di Kulon Progo, minuman dawet dikreasikan dengan sentuhan yang khas. Tentunya hal ini menjadi ciri tersendiri bagi kuliner legendaris Dawet Sambal.  

Bagi para pecinta kuliner, berikut 5 fakta menarik dari kuliner legendaris Dawet Sambal khas Kulon Progo yang perlu diketahui: 

1. Sejarah Munculnya Dawet Sambal

Dilansir dari laman resmi kebudayaan.kemdikbud.go.id, sesuai dengan cerita masyarakat Kulon Progo, dulunya leluhur (simbah) mereka pernah berjualan pecel dan dawet sekaligus. Biasanya dijual di pentas pagelaran semasa era dahulu. 

Saat istirahat tiba, simbah berkeliling menjajakan dawet dan pecelnya. Seorang pembeli memberi masukan pada simbah untuk menggabungkan dawet dan pecelnya menjadi satu hidangan. 

Kemudian setelah masukan diterima, terpantau banyak pelanggan yang suka minumannya. Akhirnya muncul istilah Dawet Sambal di daerah tersebut. Terkadang juga diberi julukan Dawet Pecel. Minuman satu ini sudah termasuk kuliner legendaris Kulon Progo dengan usia 70an tahun. 

2. Asal Mula Pembuatan Dawet

Tanaman ganyong adalah bahan dasar dari minuman Dawet Sambal. Tanaman ini biasanya tumbuh di sekitar halaman perumahan. Kemudian masyarakat memanfaatkan tanaman ganyong untuk diolah sebagai tepung yang selanjutnya digunakan untuk bahan dasar olahan dawet. 

Seiring zaman berkembang, para pelanggan ingin merasakan cita rasa beda dibanding dari rasa dawet yang sebelumnya. Dengan demikian, dawet dengan campuran sambal pecel akhirnya menjadi menu unik dan utama yang digemari oleh masyarakat luas. 

Baca Juga: Mengenal Upacara Adat Rambu Solo, Tradisi Pemakaman Unik di Tanah Toraja Sulawesi Selatan

3. Cita Rasa yang Khas 

Dawet Sambal tentunya memiliki rasa berbeda dari minuman dawet biasanya. Perbedaan ini ada pada sambal yang terbuat dari ulekan nira goreng kering dengan cabai juga. 

Kombinasi kubis, dawet hingga siraman sambal akan memberikan rasa pedas, manis dan gurih menjadi satu. Itulah mengapa kuliner legendaris Dawet Sambal terasa berbeda.

Pembuatan olahan sambal juga berasal dari irisan kelapa yang disangrai, kemudian tumbukan cabai merah, gula pasir, garam, bawang putih dan terasi. Rasa yang tercipta jelas unik dan beda dari lainnya. 

Penyajian kuliner ditempatkan pada satu mangkok dengan taburan touge diatasnya. Sambal yang digunakan pun tanpa kuah santan ataupun es. Sehingga cita rasa unik tercipta dan tentunya menjadi daya tarik sendiri bagi para pecinta kuliner. 

4. Pemaknaan dari kuliner Dawet Sambal

Umumnya, Dawet Sambal memiliki makna suatu gambaran kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Seporsi dawet terdapat berbagai komponen inti yakni, juruh, dawet dan sambal. 

Dengan rasa minuman yang disuguhkan akan muncul berbagai perbedaan sudut pandang. Dimana hal ini merujuk pada suatu kondisi hubungan sosial di lingkungan masyarakat yang menemukan bermacam-macam sudut pandang, suku, ras, agama, budaya hingga ideologi dengan latar belakang berbeda juga. 

Manusia membutuhkan wadah dalam sebuah lingkungan masyarakat yang nantinya akan menjadi media pemersatu dalam perbedaan antar manusia. Sehingga akan tercipta perasaan nikmat karena musyawarah yang dilakukan telah tercapai secara mufakat. 

Untuk sambalnya sendiri bermakna dalam bermasyarakat tentu akan ada masalah yang dilalui. Solusi yang tepat mengatasi ini adalah membentuk keharmonisan hubungan sosial dalam meleburkan masalah. 

Penambahan tahu goreng, bawang merah, dan kerupuk juga memiliki makna kebutuhan dari manusia untuk bersosialisasi dan membentuk hal-hal baru sebagai warna berbeda dalam lingkungannya. 

Rasa pedas, manis dan gurih yang tercipta dapat meleburkan perbedaan menjadi satu kesatuan yang dapat diterima semuanya. Hal ini juga bentuk keramah-tamahan masyarakat di daerah Jatimulyo, Kulon Progo yang terbuka dengan berbagai suguhan sederhana saat orang lain mengadakan kunjungan. 

5. Menjadi Warisan Tak Benda

Pada tahun 2019, Dawet Sambal resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Nomor registrasi 201900957 dengan karya budaya bernama Dawet Sambal. Kuliner ini masuk pada domain Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional. 

Pengakuan ini tentunya tak hanya menjadikan kuliner Dawet Sambal sebagai bagian dari kekayaan budaya Kulon Progo, tetapi juga hal ini mendorong pelestarian kuliner ke jenjang nasional. 

Jadi, saat berkunjung ke Kabupaten Kulon Progo, manfaatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan Dawet Sambal yang legendaris ini. 

Penulis: Razmarita Dyasprinasti

(kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#dawet ayu #Dawet Bayat #dawet daun suji #dawet #dawet ireng jembut kecabut #dawet hitam #Dawet Goreng #dawet durian #dawet adalah #Dawet Ireng