RADAR MALIOBORO – Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Bunker Kaliadem yang berada di Dusun Kaladem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, salah satu tempat wisata yang minat pengunjungnya sangat banyak.
Dengan keindahan alam yang begitu menakjubkan, Bunker Kaliadem dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sekitar tahun 2000-an dan di fungsikan sebagai tempat berlindung dari awan panas Gunung Merapi.
Bunker Kaliadem yang dulunya dibangun sebagi perlindungan dari letusan Gunung Merapi, kini menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Dibalik keindahan Gunung Merapi yang gagah dan menawan, ada kisah kelam di dalamnya.
Kisah Kelam Bunker Kaliadem
Bunker Kaliadem di bangun tahun 2000-an sebagai Upaya untuk melindungi penduduk dari letusan Gunung Merapi, yang merupakan salah satu gunung berapu paling aktif di Indonesia. Sebelum letusan besar yang memakan korban pada tahun 2006 kawasan Gunung Merapi memiliki padat populasi. Letusan Gunung Merapi yang hebat menghancurkan wilayah kaliadem dan menyebabkan kerusakan serta kehilangan jiwa.
Pada tahun 2006, Gunung Merapi mengalami erupsi, material vulkanik Gunung Merapi saat itu menutup seluruh bangunan bunker kaliadem. Bunker Kaliadem inilah yang menjadi saksi bisu peristiwa kelam pada tahun 2006, saat itu Merapi mengalami erupsi yang mengakibatkan dua orang relawan terjebak di dalam bunker.
Dua orang relawan yang bermasuk menyelamatkan diri dari awan panas atau “wedhus gember” dengan bermasuk untuk berlindung didalam bunker, namun na’as saat ditemukan dua orang relawan meninggal didalam Bunker Kaliadem.
Kisah pilu terjadinya pada saat ini itu salah satu anggota TRC BPBD DI Yogyakarta yaitu Romo Intonk dan bersama anggota lainnya, ditugaskan untuk mnedampingi juru kunci Gunung Merapi yaitu Mbah Maridjan. Pada saat itu Romo Intonk mendatangi rumah Mbah Maridjan yang saat itu sedang tidak ada aktivitas, dengan keadaan Merapi saati itu Siaga menjadi Waspada.
Terlihat awan panas yang terus keluar, Romo Intonk mengajak Mbah Maridjan dan kenteng untuk bergeser sedikit kearah barat, namun Mbah Maridjan menolak dan merasa aman. Saat sesampainya di bunker kaliadem. Setelah melihat luncuran awan panas, Romo Intonk dan anggota lainnya bergegas menuju arah barat.
Setelah kejadian itu Romo Intonk mencoba untuk mengevakuasi korban yang ada di dalam Bunker Kaliadem, evakuasi yang cukup sulit karena material erupsi Gunung Merapi dan Material tersebut sangat panas.
Pada oktober 2010 silam, Gunung Merapi mengalami erupsi yang cukup besar, bahkan letusan terbesar melampaui erupsi pada tahun 2006. Mbah Maridjan selaku Juru Kunci Merapi juga tak luput menjadi korban dari keganasaan letusan Merapi pada saat itu.
Saat erupsi tahun 2010 lalu, tercatat guguran material 100 kali perhari yang dimana status Siaga menjadi Waspada. Akibat dari peristiwa erupsi Gunung Merapi ini, Mbah Maridjan dan sedikit warganya di Dusun Kinaherjo ditemukan tewas, dengan total setidaknya 353 orang meninggal karena letusan Merapi pada 2010.
Meskipun kisah kelam Bunker Kaliadem menyiksakan luka mendalam, Bunker Kaliadem menjadi destinasi wisata yag menarik dan tempat untuk mengenang Sejarah letusan Merapi, serta dapat melihat bagaimana kekuatan alam dapat mempengaruhi kehidupan manusia. ***
(Windu Fitri Yansi)
Editor : Iwa Ikhwanudin