RADAR MALIOBORO - Hotel Toegoe merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki kisah menarik dalam perjalanan waktu.
Sebagai salah satu hotel yang ternyata masih dimiliki oleh keluarga Probosutedjo, adik Soeharto.
Hotel Toegoe terletak di pusat kota Yogyakarta, yang didirikan pada masa penjajahan belanda. Nama "Toegoe" berasal dari bahasa Belanda yang berarti "Tugu" atau "Monumen".
Hotel Toegoe terletak di Jalan Margo Utomo 2 Yogyakarta, tepat disebelah timur Stasiun Yogyakarta. Salah satu tamu yang pernah menginap di hotel ini adalah Raja Siam Chulalongkorn pada saat itu tengahh mengunjungi Hindia Belanda, pada Juni-Juli 1896.
Desain Hotel ini mencerminkan gaya colonial Belanda dengan sentuhan local, memadukan elemen-elemen Eropa dengan nuansa tradisional jawa.
Sebenarnya tidak ada sumber yang menjelaskan pembangunan ini, hanya saja Hotel Tugu diyakini sudah ada sejak sebelum Stasiun Tugu selesai dibangun.
Terdapat salah satu bukti pada pembukaan hotel ini dimuat dalam surat kbar DE Locomotief pada12 April 1876. Surat kabar itu menginformasikan, akan ada hotel baru beroperasi pada 1 Mei 1876.
Seiring dengan berakhirnya era kolonial dan memasuki masa kemerdekaan Indonesia, Hotel Toegoe ini mengalami perubahan.
Beberapa dekade hotel ini mengalami perubahan dan pembaharuan untuk mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan para tamu.
Selama masa-masa penting dalam sejarah Indonesia termasuk masa periode revolusi kemerdekaan, hotel ini sering menjadi tempat pertemuan bagi tokoh-tokoh penting dan diplomat.
Hotel Toegoe memiliki bentuk bangunan dengan ciri khasnya seperti, penanda ruang (landmark) bangunan yang terdiri atas bangunan induk diapit dua banguan pendukung.
Bangunan ketiga berdenah persegi Panjang menghadap barat, setiap bangunan induk dihiasi dengan balok bersusun yang simetris.
Hotel tugu memiliki ciri yang menonjol yaitu memiliki ukuran pintu dan jendela yang besar dan plafon yang tinggi.
Hotel Tugu Yogyakarta bukan hanya sekedar tempat menginap, tetapi juga menjadi saksi sejarah mencerminkan perjalanan waktu Yogyakarta.
Dengan jejak sejarah yang mendalam dan bentuk bangunan yang menawan, hotel ini tetap menjadi simbol penting dari warisan kolonial dan budaya lokal.
(Windu Fitri Yansi)