Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengenal Tarian Caci yang Berasal dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur

Iwa Ikhwanudin • Senin, 7 Oktober 2024 | 17:04 WIB
Tarian Caci.  (Wikipedia)
Tarian Caci. (Wikipedia)

RADAR MALIOBORO - Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan keunikan suatu kebudayaan di Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tepatnya di Manggarai.

Masyarakat Manggarai memiliki ciri khas budaya yaitu tarian caci yang merupakan tarian adat asli Manggarai yang berkeunikan mulai dari gerak tari, properti, kostum hingga maknanya.

Caci atau tarian caci adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk (larik) dan perisai (Nggiling).

Penari yang bersenjatakan Larik bertindak sebai penyerang dan lainnya yang bertahan menggunakan Nggiling.

Tari ini biasanya dimainkan pada saat syukuran musim panen (Hang Woja) dan upacara adat besar lainnya.

Tarian caci mengandung makna simbolis yang melambangkan kejantanan, keramaian, kemegahan dan sportifitas.

“Ca” berarti satu dan “Ci” berarti Uji sehingga bermakna uji satu lawan satu.

Di sela-sela permainan, para tetua adat baik laki-laki maupun perempuan menari (danding) dengan penuh suka cita sambil berjalan secara teratur membentuk lingkaran.

Tarian caci merupakan sebuah kesenian yang mampu menunjukkan nilai-nilai budi pekerti bagi masyarakat Manggarai dan mereka yang menyaksikannya.

Caci dapat mengambarkan bahwa masyarakat Manggarai merupakan masyarakat yang berjiwa sosial tinggi dimana caci mempertunjukan sebagai rasa hormat terhadap sesama, alam serta sang pencipta semesta (Tuhan).

Caci adalah tarian adat sebagai citra diri masyarakat manggarai yaitu Manggarai Tengah, Manggarai Barat dan Manggarai Timur dikatakan demikian karena tidak ada penelitian bahwa caci dimiliki oleh budaya lain melainkan caci hanya berada di tanah Manggarai.

Kejantanan dan keberanian seorang laki laki dapat dilihat pada caci dengan sebagaimana apakah kuat menghadapi dalam uji ketangkasan caci.

Gerakan uji ketangkasan caci bukan sekadar pukulaan biasa melainkan memukul dengan penuh kekuatan (Mberes) sambil melontarkan suara kejantanannya.

Sebelum menari, para penari biasanya ada prosesi upacara adat, seperti upacara penerimaan tamu secara adat dengan menggunakan ayam putih, dan upacara pemberian sesajian kepada leluhur.

Kemudian mengganti pakaian mereka di dalam rumah adat (mbaru tembong/gendang), dan menggunakan pakaian adat Manggarai seperti selendang songket, kain songket, dan pernak-pernik yang akan digunakan (alat pemukul, alat penangkis/perisai, alat penutup kepala, dan beberapa pernak-pernik lainnya).

Dalam tarian caci hanya laki-laki yang ikut serta dalam tarian tersebut, sedangkan perempuan hanya berpartisipasi dalam acara, seperti main gong, pukul gendang, dan melayani tamu-tamu dengan menyiapkan makanan dan minuman.

Tari caci biasanya dimainkan pada saat upacara-upacara penting di suatu suku atau kampung, seperti pada upacara syukuran (penti), upacara pentahbisan pastor, upacara perkawinan adat (wagal), dan upacara-upacara penting lainnya.

Tempat tari caci biasanya dilaksanakan pada halaman kampung (natas), atau bisa juga di lapangan tertentu yang telah disepakati persama.

(Dia Daiyanti)

sumber : berbagai sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
#tarian #Tari Caci #ntt #nusa tenggara timur #manggarai