Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Radya Pustaka: Museum Tertua di Indonesia yang Menyimpan Benda Bersejarah Zaman Kerajaan

Izzatul Akmal Fikri • Rabu, 9 Oktober 2024 | 17:16 WIB

Halaman depan Museum Radya Pustaka, Surakarta.
Halaman depan Museum Radya Pustaka, Surakarta.


RADAR MALIOBORO - Di pusat Kota Solo, tepatnya di Jalan Slamet Riyadi, berdiri sebuah museum yang menjadi saksi bisu pentingnya pengarsipan dan sejarah bagi masyarakat Jawa.

Museum Radya Pustaka, didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada 18 Oktober 1890, yang menjadi museum tertua di Indonesia.

Terletak tak jauh dari Taman Sriwedari, museum ini menjadi pusat pelestarian sejarah dan budaya Nusantara, serta mengungkapkan warisan masa lalu yang tak ternilai.

Museum ini awalnya merupakan kediaman seorang warga negara Belanda, Johannes Busselaar, dan dikenal juga dengan nama Loji Kadipolo.

Secara etimologi, "radya" berarti pemerintahan, sedangkan "pustaka" berarti surat. Pada awalnya, museum ini digunakan untuk menyimpan surat-surat penting kerajaan.

Seiring waktu, koleksinya berkembang dengan menyimpan berbagai benda bersejarah yang berhubungan dengan kerajaan, menjadikannya sebuah museum yang kaya akan warisan budaya.

Bentuk bangunan asli museum ini dipertahankan, meski beberapa bagian telah diubah untuk menyesuaikan fungsi museum.

Saat pengunjung memasuki halaman museum, mereka akan disambut oleh patung Rangga Warsita, pujangga besar dari Surakarta pada abad ke-19.

Di dalam museum, ruang pertama menyajikan koleksi wayang dari berbagai jenis, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pengunjung dapat menemukan wayang purwa, wayang gadog, wayang klithik, wayang sukat, wayang beber, hingga wayang nang dari Thailand.

Ruang kedua, yang dikenal sebagai Ruang Tosan Aji, memamerkan berbagai senjata yang terbuat dari logam, arca, serta miniatur rumah joglo khas Jawa Tengah.

Di antara ruang ini dan ruang berikutnya, pengunjung akan menemukan sebuah orgel (kotak musik) yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Paku Buwana IV (1788-1820).

Baca Juga: Kecelakaan di Tol Batang: Kapolres Boyolali Meninggal Dunia, Apakah Aturan Pengendara Truk Akan Diperketat?

Selanjutnya, ruang ketiga menampilkan berbagai koleksi keramik peninggalan masa penjajahan Belanda.

Di sini, terdapat piring sewon, yang dibuat khusus untuk memperingati seribu hari meninggalnya seorang anggota kerajaan.

Ruang keempat adalah perpustakaan yang menyimpan koleksi buku-buku berbahasa Belanda dan Jawa.

Meski beberapa buku berbahasa Indonesia juga tersedia, koleksi ini hanya bisa dibaca di dalam perpustakaan.

Di luar ruang perpustakaan, terdapat patung Johannes Albertus Wilkens, ahli bahasa yang menyusun kamus Jawa-Belanda.

Ruang kelima memajang koleksi dari bahan perunggu, seperti patung dan gamelan. Sementara itu, ruang keenam, Ruang Etno, menyimpan gamelan agung milik Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV serta alat tenun tradisional dan gamelan genderan, sumbangan dari keluarga keraton.

Di ruang terakhir, Ruang Rojomolo, terdapat patung Rajamala, yang merupakan hiasan bagian depan perahu yang digunakan untuk menjemput permaisuri Pakubuwono IV.

Di bagian belakang, pengunjung akan menemukan maket makam raja-raja Imogiri serta berbagai arca.

Meski museum ini sempat menjadi sorotan pada tahun 2006 karena beberapa koleksinya dicuri dan diganti dengan replika, sebagian besar koleksi yang hilang berhasil ditemukan kembali.

Saat ini, beberapa koleksi di museum memang merupakan replika, namun selalu ditandai dengan keterangan khusus.

Museum Radya Pustaka buka dari hari Selasa hingga Minggu, dengan jam operasional mulai pukul 08.30 hingga 13.00 WIB.

Museum ini merupakan destinasi yang tepat bagi siapa saja yang ingin menyelami sejarah dan kebudayaan Jawa yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Jejak Sejarah #wisata sejarah #wisata solo #Museum Tertua di Indonesia #museum radya pustaka #benda bersejarah #wisata edukasi