RADAR MALIOBORO - Pantai Parangtritis adalah salah satu wisata alam yang banyak dikunjungi oleh pendatang yang berlibur ke Yogyakarta.
Selain keindahan alamnya, wisata ini menyuguhkan berbagai wisata lainnya seperti delman atau sewa kuda.
Antusiasme pengunjung terbilang tinggi pada saat libur tiba.
Seperti pada Selasa (8/04/2025), pasca hari Raya Idul Fitri, masih banyak pengunjung yang berdatangan meskipun cuti panjang sudah berakhir.
Banyak juga wisata delman yang beroperasi dan siap mengangkut wisatawan untuk berkeliling pantai.
Di samping keseruan yang ditawarkan, ternyata ada proses pemeliharaan kuda yang jarang diketahui pengunjung di wisata pantai ini.
Benarkah Denok Kuda Legendaris?
Mari kita menilik Denok, kuda berusia 20 tahun milik salah seorang kusir bernama Bapak Suthik.
Kuda ini dibesarkan olehnya dari warisan orang tuanya.
Terhitung sudah enam belas tahun kuda ini menemani perjalanan ribuan pengunjung yang hadir di pantai.
Pak Suthik menjelaskan bahwa usia standar kuda untuk dapat dilatih saat berusia dua tahun, dan siap digunakan membawa delman saat berusia empat tahun.
Bagaimana keseharian Denok dan kusirnya?
Baca Juga: Yogyakarta Royal Orchestra Gelar Open Rehearsal Sebelum Tampil di Jakarta 2025
Setiap hari Pak Suthik memberi makan Denok pada pukul 05.00 WIB.
Setelahnya, kuda dimandikan setiap pagi, hal ini bertujuan agar tidak bau badan lantaran secara alami kuda mengeluarkan banyak keringat akibat gerak tubuhnya.
Setelah Pak Suthik bersiap diri dan bersarapan, ia membawa Denok ke pantai Parangtritis pada pukul 08.00 WIB.
Ketika siang hari tiba saatnya sholat Dzuhur, ia membawa Denok kembali pulang ke kandang untuk diberi makan siang.
Lalu kembali ke Pantai lagi setelahnya hingga pukul 17.00 WIB.
Hal ini dilakukan setiap hari oleh Pak Suthik, karena Denok adalah kuda milik pribadi yang ia besarkan sendiri, maka kesehatan dan keselamatan Denok lebih utama baginya.
Bagaimana jika kudanya sakit?
Sakit adalah hal mutlak yang dihindari bagi setiap makhluk hidup, termasuk kuda.
Pak Suthik menyampaikan apabila Denok sudah mengalami tanda-tanda kelelahan seperti nafasnya yang terengeh-engah dan staminanya berkurang.
Maka akan langsung dibawa pulang untuk istirahat.
Jika perlu, ia akan memanggil dokter hewan untuk memastikan kesehatan Denok.
Hal ini untuk menghindari Denok sakit atau kelelahan saat menarik delman sehingga dapat mengancam kesehatan bahkan nyawanya.
Adapun penyakit yang menurut Pak Suthik lebih berbahaya yaitu ketika terdapat banyak gas di perut kudanya, sebab ini bisa berakhir pada kematian.
Baca Juga: Bangga! Film Animasi Jumbo 100 Persen Digarap Anak Bangsa
Berbeda dengan beberapa kusir lainnya yang sekiranya memiliki target harian yang harus dicapai tanpa memikirkan kondisi kesehatan kudanya, Pak Suthik tidak demikian.
“Kalau kuda punya sendiri kan kelihatan capek terus istirahat. Kalau kejar setoran ya ada tarik, ada tarik. Kalau ini milik orang tua kan jadi santai mbak."
"Kalau ada ya alhamdulillah kalo enggak ya yang penting kan sudah berusaha”, ujar Pak Suthik.
(Umi Jari Widayah)
Editor : Iwa Ikhwanudin