Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Muter-Muter DIY-Jateng, 76Rider Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro

Heru Pratomo • Senin, 4 Agustus 2025 - 04:27 WIB
Muter-Muter DIY-Jateng, 76Riders Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro
Muter-Muter DIY-Jateng, 76Riders Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro

 

JOGJA – Awal mula Perang Jawa dengan sosok Pangeran Diponegoro yang jadi pemimpinya sudah banyak yang tahu. Termasuk penyebabnya. Peninggalan sang pangeran pun masih tersimpang di Museum Diponegoro di Tegalrejo, Kota Jogja.

Tapi di mana lokasi sang pangeran dari Keraton Jogja itu ditangkap? Apalagi peninggalan Pangeran Diponegoro selama hidup? Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, Forum jurnalis Jogja yang tergabung dalam komunitas 76Rider menggelar touring. Dengan tema, ‘Muter-Muter DIY-Jateng’

Selama seharian pada Sabtu (2/8) para jurnalis ini napak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro. Dimulai dari sarapan di Soto Pak Sholeh yang berada di dekar Museum Diponegoro di Tegalrejo, Kota Jogja.

“Lokasi ini (Museum Diponegoro) menjadi saksi bisu seorang bangsawan keraton memutuskan untuk turun ke medan laga demi harga diri bangsa dan tanah air,” kata salah seorang peserta touring Azam Sauki.

Tujuan berikutnya adalah lokasi penangkapan Pangeran Diponegoro. Yang juga jadi lukisan legendaris Raden Saleh, berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. “Lokasinya kini menjadi Museum Pengabdian Pangeran Diponegoro di Kota Magelang,” tambahnya.

Perjalanan pun dimulai. Dengan mengambil rute yang diyakini dulu juga menjadi rute perjuangan putera Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono III tersebut. Dipilihlah rute menuju Godean, hingga tembus di Kalibawang, Kulon Progo dan menuju tujuan pertama di Jalan Pangeran Diponegoro No. 1 Kota Magelang.

Museum ini dulunya merupakan rumah dinas Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Hendrik Markus de Kock. Dalam sejarah tercatat menjadi tempat perundingan antara Diponegoro dan Belanda terjadi. Di sinilah, sang Pangeran akhirnya ditangkap dalam pengkhianatan.

Ketika memasuki ruangan utama museum, suasana hening. Di dalam almari kaca, para jurnalis menatap takjub jubah putih dan Alquran tulisan tangan milik Pangeran Diponegoro—dua benda asli yang masih terawat rapi.

Sepelamparan mata juga melihat meja dan kursi asli tempat perundingan berlangsung. Dari dalam ruang itu terasa seperti ada aura luapan emosi sang Pangeran atas pengkhianatan dan tipu daya penjajah.

Replika lukisan karya Raden Saleh yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro pun menjadi saksi bisu betapa tragis akhir perjuangan.

Perjalanan napak tilas Pangeran Diponegoro belum berakhir. Masih di Magelang, 76Rider kembali menyalakan motor mereka dan menuju sebuah tempat suci di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

Di sinilah Masjid Langgar Agung Diponegoro berdiri. Masjid ini dibangun di atas petilasan tempat Pangeran Diponegoro beristirahat kala berjuang pada masa Perang Jawa.

Dibangun sejak 1960-an dan diresmikan pada 8 Januari 1972, masjid ini adalah wujud penghormatan atas jasa Pangeran Diponegoro. “Istirahan sekalian salat dulu,” ajak Chaidir, pemimpin rombongan.

Didukung oleh Djarum76 dan perlengkapan lapangan dari Eiger, perjalanan napak tilas ini sekaligus mengisi hati dengan mengingat kembali beberapa hal yang pernah dilakukan Pangeran Diponegoro. Terutama menumbuhkan rasa nasionalisme dan kemanusiaan.

“Perjalanan ini mengajarkan kami, bahwa di balik jalan-jalan sunyi yang kami lewati, ada jejak langkah perjuangan yang tak boleh dilupakan," ujar Chaidir,

 

 

 

Editor : Heru Pratomo
#magelang #perang jawa #pangeran diponegoro #forum jurnalis jogja #Tegalrejo #76Rider