RADAR MALIOBORO – Benteng Van der Wijck, sebuah bangunan bersejarah yang terletak di Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, merupakan salah satu peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Dibangun pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1830-an, benteng ini merupakan bagian dari strategi Benteng Stelsel yang diperkenalkan oleh Jenderal De Kock setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830).
Awalnya bernama Fort Cochius, benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan militer Belanda dan markas penting di Jawa Tengah untuk menekan perlawanan pribumi serta mengawasi jalur strategis di wilayah selatan Pulau Jawa. Terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun pendirian benteng ini; beberapa sumber menyebutkan bahwa benteng ini berdiri sejak 1818, sementara yang lain menyebutkan tahun 1833 atau 1844. Nama Van der Wijck diambil dari nama seorang perwira tinggi Belanda yang menggantikan Frans Cochius sebagai Komandan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).
Seiring berjalannya waktu, fungsi Benteng Van der Wijck mengalami beberapa perubahan. Awalnya berfungsi sebagai benteng pertahanan kolonial, benteng ini kemudian digunakan sebagai barak militer tempat pasukan Belanda bermukim dan pusat pelatihan bagi tentara kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan sebagai tempat latihan tentara PETA (Pembela Tanah Air), dan setelah Agresi Militer Belanda, benteng ini kembali dikuasai Belanda sebagai markas pertahanan. Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai barak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) hingga tahun 1980, dan sempat menjadi pusat pendidikan militer sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi objek wisata sejarah dan edukasi.
Benteng Van der Wijck memiliki arsitektur yang unik dengan bentuk segi delapan yang cukup langka. Seluruh bangunan terbuat dari batu bata merah, termasuk atapnya yang dirancang menyerupai bukit kecil. Dinding benteng sangat kokoh dengan ketebalan mencapai lebih dari satu meter, dilengkapi jendela-jendela besar bergaya khas Belanda. Dengan luas sekitar 7 hektar, benteng ini memiliki ruangan-ruangan bekas barak prajurit, aula pertemuan, gudang senjata, dan area lapangan.
Saat ini, Benteng Van der Wijck dikelola sebagai kawasan wisata sejarah dan rekreasi keluarga. Pengunjung dapat menikmati tur sejarah, berfoto dengan latar belakang bangunan antik, dan menikmati wahana modern seperti kereta mini, kolam renang, dan area outbound. Benteng ini juga sering digunakan untuk acara seni budaya, kegiatan pendidikan, hingga lokasi syuting film dan sinetron.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin