RADAR MALIOBORO – Di tengah sorotan isu krisis air dan perubahan iklim, masyarakat Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, kembali menggelar Merti Ngupit untuk ke 1159 kalinya. Namun tahun ini, tradisi tersebut tidak hanya menjadi simbol pelestarian sumber air, melainkan juga ruang edukasi dan afirmasi identitas desa sebagai pusat pengetahuan lokal.
Berbeda dari narasi umum yang menekankan aspek konservasi, Merti Ngupit 2025 menunjukkan bahwa tradisi bisa menjadi platform pendidikan ekologis yang hidup. Serangkaian kegiatan seperti lomba anak, pentas seni, dan kirab budaya bukan hanya sekadar hiburan, tetapi metode pembelajaran lintas generasi. Anak-anak diajak mengenal desa bukan sebagai tempat tinggal pasif, melainkan ruang hidup yang aktif dan bermakna.
Puncak prosesi yang berlangsung di Sumber Pengilon menjadi titik refleksi kolektif. Warga membawa air dan tanah dari empat penjuru desa untuk dipadukan di sumber utama, menegaskan filosofi Sedulut Papat Limo Pancer, bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem sosial dan alam. Fragmen wayang “Wahyu Tirta Wening” yang ditampilkan oleh dalang Jawahir memperkuat pesan bahwa kejernihan hati dan kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya adalah bentuk wahyu yang harus dijaga bersama.
Namun yang menarik, Merti Ngupit juga menjadi laboratorium sosial yang menggabungkan seni, spiritual, dan advokasi lingkungan. Penanaman pohon beringin di pelataran Balai Desa bukan hanya simbol konservasi, tetapi juga strategi nyata untuk memperkuat daya dukung ekologis desa.
Lurah Kahuman, Wedoyo Joko Sumitro, menyebut bahwa tradisi ini adalah bentuk pengetahuan lokal yang relevan kembali di era krisis. “Kami tidak sedang bernostalgia. Kami sedang mengingat bahwa desa punya cara tersendiri untuk menjaga air dan hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Rohani, pegiat seni dan panitia acara, menekankan pentingnya regenerasi nilai.
“Anak-anak harus tahu bahwa air bukan hanya kebutuhan, tapis umber kehidupan. Lewat tradisi, mereka belajar bukan dari teori, tapi dari pengalaman,” katanya.
Merti Ngupit 1159 membuktikan bahwa tradisi bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.
Di saat banyak solusi ekologis datang dari luar desa, Kahuman menunjukkan bahwa jawaban bisa lahir dari dalam: melalui kebersamaan, kesadaran, dan warisan nilai yang terus hidup.
(Hanifah Okta)
Editor : Iwa Ikhwanudin