RADAR MALIOBORO – Tradisi ruwatan rambut gimbal menjadi sorotan utama dalam Dieng Culture Festival (DCF), sebuah acara tahunan yang menarik ribuan wisatawan ke Dataran Tinggi Dieng. Ruwatan adalah upacara pemotongan rambut gimbal yang bertujuan untuk membersihkan anak-anak dari kesialan atau malapetaka.
Prosesi ruwatan dipimpin oleh tetua adat dan melibatkan serangkaian ritual sakral. Anak-anak yang akan diruwat dikumpulkan di rumah tetua adat, kemudian dibawa ke kompleks Candi Arjuna untuk menjalani ritual jamasan, yaitu pembersihan diri dengan air dari Sendang Sedayu.
Salah satu momen paling dinanti dalam prosesi ruwatan adalah saat anak-anak berambut gimbal menyampaikan permintaan mereka kepada orang tua. Permintaan ini harus dipenuhi sebelum rambut mereka dipotong. Ini bisa berupa mainan sederhana atau barang-barang yang lebih mahal, tergantung pada keinginan anak. Setelah permintaan dipenuhi, rambut gimbal dipotong dan dilarung ke sungai atau danau sebagai simbol pelepasan energi negatif.
Dieng Culture Festival tidak hanya melestarikan tradisi ruwatan, tetapi juga berfungsi sebagai daya tarik wisata yang penting bagi masyarakat Dieng. Dengan ribuan pengunjung yang datang setiap tahun, festival ini membantu memberdayakan ekonomi lokal dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya.
DCF tidak hanya melestarikan tradisi ruwatan, tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat Dieng melalui pariwisata. Pada tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tradisi Ruwatan Rambut Gimbal sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin