Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Catstanbul: Kota Istanbul yang Hidup Bersama Kucing Jalanan

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 20 November 2025 | 20:32 WIB
Kucing di Hagia Sophia, Istanbul, Turki (Sumber: Pinterest)
Kucing di Hagia Sophia, Istanbul, Turki (Sumber: Pinterest)

RADAR MALIOBORO – Istanbul bukan hanya kota yang dipenuhi manusia, tetapi juga rumah bagi ratusan ribu kucing yang menjelajahi jalanan, masjid, kafe, hingga stasiun metro. Di tengah hiruk pikuk lebih dari 15 juta penduduk yang berebut ruang di kota terbesar Turki, kucing-kucing jalanan justru menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan sehari-hari. Diperkirakan ada sekitar seperempat juta ekor kucing yang hidup disana, menjadikan Istanbul layaknya “Catstanbul”, kota yang berdengkur penuh kasih dan kehangatan.

Kucing di Istanbul bukan sekadar hewan peliharaan atau liar. Mereka dirawat bersama oleh masyarakat di lingkungan masing-masing. Marcel Heijnen, fotografer sekaligus penulis City Cats of Istanbul, menyebut bahwa kucing di kota ini memiliki status unik, tidak dimiliki individu, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif warga.

Pemerintah kota bahkan menyediakan layanan sterilisasi gratis, sementara klinik hewan swasta memberi diskon untuk perawatan kucing jalanan. Warga pun kerap menanggung biaya dokter hewan, menunjukkan berapa besar rasa hormat terhadap hewan ini.

Tradisi mencintai kucing bukanlah hal baru. Sejak masa Ottoman, yayasan lokal sudah memastikan kucing liar mendapat perawatan. Bahkan muncul profesi khusus Bernama mancaci, pengasuh kucing yang bertugas memberi makan hewan-hewan tersebut.

Lebih jauh ke belakang, sejak era Fenesia hingga Romawi, kucing sudah menjadi sahabat para pelaut yang membawa mereka ke Istanbul untuk menjaga kapal dari hama. Seiring berjalannya waktu, kucing pun menetap dan berkembang biak di kota pelabuhan yang ramai ini.

Kini, kucing menjadi bagian dari identitas Istanbul. Mereka hadir di bangku taman, tangga rumah, hingga rumah-rumah kayu kecil yang disediakan warga. Di pasar dan stasiun metro, mangkuk berisi makanan dan air selalu tersedia. Banyak toko sengaja memelihara kucing sebagai daya tarik, sementara pengunjung kafe tak segan berbagi makanan dengan kucing yang mendekat. Di kawasan bersejarah Fatih, misalnya, wisatawan bisa bertemu Sulo, kucing gemuk abu-abu putih yang terkenal suka berpose di Alun-alun Sultanahmet.

Kahadiran kucing membuat kota yang keras dan sibuk terasa lebih lembut. Mereka menjadi duat wisata tak resmi, menghadirkan ketenangan di tengah keramaian. Heijnen menegaskan, “Memiliki spesies lain yang mengklaim ruang mereka sendiri di kota adalah sesuatu yang istimewa. Lebih istimewa lagi melihat warga setempat peduli terhadap sesame penghuni bumi.”

Bagi banyak wisatawan, kucing Istanbul meninggalkan kesan mendalam.

Wajah, cakar, dan dengkuran mereka tetap terpatri di ingatan, menjadi pengingat indah tentang apa yang terjadi ketika manusia dan hewan berbagi ruang dengan damai. Istanbul, dengan segala riuhnya, justru menemukan kelembutan melalui kucing-kucing jalanan yang menjadikan kota ini berbeda dari tempat lain di dunia.

(Hanifah Okta)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kucing jalanan turki #kucing jalanan #istanbul #turki #pecinta kucing