Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Puncak Jaya: Menelusuri Keindahan dan Ancaman Kehilangan Salju Abadi di Indonesia

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 22 November 2025 | 13:40 WIB
Ilustrasi Keindahan Gunung Jayawijaya yang memiliki salju di puncak gunung (foto: tiktok, Gunung Jayawijaya)
Ilustrasi Keindahan Gunung Jayawijaya yang memiliki salju di puncak gunung (foto: tiktok, Gunung Jayawijaya)

RADAR MALIOBORO – Puncak Jaya, atau Piramida Carstensz, merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan salah satu keajaiban alam yang luar biasa, dengan salju abadi yang terdapat di wilayah tropis. Terletak di Pegunungan Sudirman, Papua, Puncak Jaya menjulang setinggi sekitar 4.884 meter di atas permukaan laut, menjadikannya daya tarik bagi ilmuwan, peneliti, pendaki, dan pecinta alam dari berbagai penjuru dunia.

Salju abadi di Puncak Jaya terjadi berkat kombinasi antara ketinggian yang ekstrem dan suhu yang sangat rendah. Dengan suhu yang bisa mencapai di bawah 0 derajat Celsius, salju dapat membeku sepanjang tahun. Bentuk lapisan es yang tebal ini menjadikan Puncak Jaya sebagai salah satu gletser tropis, mirip dengan fenomena yang dapat ditemukan di Pegunungan Andes dan Gunung Kilimanjaro.

Namun, keindahan salju abadi di Puncak Jaya kini terancam oleh perubahan iklim global. Pemanasan global yang akibatkan peningkatan suhu di seluruh dunia menyebabkan salju abadi ini terus mencair. Penelitian menunjukkan bahwa luas gletser di Puncak Jaya mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Dari sekitar 20 kilometer persegi pada tahun 1990-an, kini sisa luas salju abadi hanya sekitar 0,23 kilometer persegi. Beberapa laporan memperkirakan salju ini bisa hilang sepenuhnya dalam waktu dekat, yaitu pada tahun 2026.

Penyebab Pencairan Salju Abadi

Pencairan salju abadi di Puncak Jaya disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk:

• Pemanasan Global: Emisi gas rumah kaca menjadikan suhu meningkat secara signifikan.

• Perubahan Curah Hujan: Pola curah hujan yang berubah juga mempercepat proses pencairan.

• Fenomena El Niño: Suhu permukaan yang lebih tinggi saat El Niño turut mempercepat pencairan.

• Panas dari Bebatuan: Panas yang berasal dari bebatuan di sekitar juga berkontribusi pada pencairan salju.

Dampak dari Hilangnya Salju Abadi

Kehilangan salju abadi di Puncak Jaya memiliki dampak besar, antara lain:

• Kehilangan Ikon Alam: Indonesia akan kehilangan simbol es yang unik di wilayah tropis.

• Perubahan Ekosistem: Ekosistem sekitar menjadi rentan akibat pencairan salju.

• Dampak Budaya: Masyarakat adat setempat menganggap gletser ini sebagai entitas sakral, sehingga kehilangannya akan menjadi pukulan besar bagi mereka.

• Peningkatan Muka Laut: Meskipun tidak signifikan, pencairan es tetap berkontribusi pada peningkatan tinggi muka laut secara global.

Upaya untuk Mitigasi dan Adaptasi

Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, diperlukan langkah mitigasi dan adaptasi yang melibatkan semua pihak. Beberapa langkah yang bisa diambil meliputi:

• Mengurangi Emisi Karbon: Mengutamakan pengurangan emisi gas rumah kaca.

• Energi Terbarukan: Menggunakan sumber energi baru dan terbarukan.

• Konservasi Lingkungan: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Puncak Jaya dan salju abadinya adalah bagian dari kekayaan alam Indonesia yang perlu dilestarikan. Menjaga keberadaan Puncak Jaya adalah tanggung jawab kita semua demi masa depan bumi dan generasi mendatang.

(Laeli Musfiroh)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#piramida #puncak jaya #Cartensz Pyramid