Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kawasan Titik Nol dan Malioboro Hidup dengan Seni, Budaya, dan Kuliner di Culture Vibes 2025

Magang Radar Malioboro • Jumat, 5 Desember 2025 | 00:27 WIB
Malioboro Gelar Uji Coba Full Pedestrian #2 dan Festival Budaya
Malioboro Gelar Uji Coba Full Pedestrian #2 dan Festival Budaya

 

Kawasan Malioboro kembali semarak dengan digelarnya Festival Malioboro Culture Vibes bersamaan dengan Uji Coba Malioboro Full Pedestrian #2 pada 1–2 Desember 2025, pukul 08.00–24.00 WIB.

 

Berbagai pertunjukan seni, aktivitas budaya, hingga pembagian kuliner gratis
diselenggarakan tepatnya di Titik Nol Malioboro untuk memberikan pengalaman baru bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menghadirkan Malioboro sebagai ruang publik yang lebih ramah pejalan kaki.


Rangkaian kegiatan yang dihadirkan antara lain performing macapat, fashion show O KM, jathilan, senam special Korpri dan resik-resik Malioboro, talkshow tokoh wanita inspiratif, tarian tradisional Kampung Menari, hingga penampilan musik dari pengamen Malioboro. Pengunjung juga dapat menikmati kuliner gratis berupa 1.000 porsi sayur lodeh, 1.000 porsi brongkos, serta 1.000 cup kopi.


Meski banyak warga menikmati sajian makanan dan minuman gratis, kesan yang muncul justru lebih mendalam. V. Prastuti, salah satu warga Yogyakarta, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat tidak semata-mata karena pembagian makanan, tetapi karena hadirnya festival seperti ini
mampu menghadirkan kebahagiaan, menghidupkan suasana kota, serta memperkuat interaksi masyarakat.


“Banyak yang senang bukan karena free food atau free drink, tetapi karena acara seperti ini membuat warga Jogja bahagia dan sangat mendukung kegiatan budaya seperti Malioboro Culture Vibes,” ujarnya. Prastuti juga berharap festival ini dapat digelar setiap tahun.


Dyah Anggraeni, sebagai Kepala UPT, menjelaskan bahwa momentum kegiatan ini sekaligus mensinergikan banyak pihak karena bertepatan dengan sejumlah peringatan penting seperti Hari AIDS, kampanye women support women, hingga Hari Anti-Kekerasan.


“Kita mensinergikan semua pihak karena dukungannya sangat besar. Festival ini juga sekaligus uji coba pedestrian kedua untuk melihat bagaimana Malioboro berfungsi sebagai kawasan pedestrian penuh, baik di weekend maupun weekdays,” jelasnya.


Menurut Anggi, penyelenggaraan festival ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari aturan penutupan jalan, pengalihan arus lalu lintas, hingga kegiatan-kegiatan positif yang dihadirkan di sepanjang Malioboro. Hadiah berupa kopi dan makanan gratis juga memiliki filosofi tersendiri, seperti lodeh dan brongkos yang menjadi simbol keberagaman rasa dan budaya.

 

“Kami bekerja sama dengan PPJI, ICA, serta hotel-hotel anggota PHRI untuk mendukung pembagian kopi gratis. Sementara itu, pertunjukan seni difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan, Kampung Menari, dan para seniman Jogja,” tambahnya.


Anggi juga menyampaikan bahwa pertunjukan besar di Titik Nol seperti yang ditampilkan kali ini merupakan pengalaman pertama, meskipun uji coba pedestrian sebelumnya telah dilakukan pada 7 November 2025. Ke depan, ia berharap penutupan Malioboro dapat menciptakan suasana baru yang lebih hidup dan menjadi ruang ekspresi yang positif bagi masyarakat.

 

“Malioboro itu tempat semua kepentingan bertemu, ruang berekspresi, dan ruang kolaborasi. Harapannya vibes seperti ini bisa dirutinkan,” ujarnya.


Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tetap mempertimbangkan berbagai komentar publik sebagai bahan evaluasi untuk menentukan apakah festival serupa akan kembali digelar dengan tema yang sama atau diperbarui. Dengan kolaborasi yang luas serta antusiasme masyarakat yang tinggi, Festival Malioboro Culture Vibes diharapkan dapat menjadi ikon baru kegiatan budaya di Yogyakarta
serta memperkuat identitas Malioboro sebagai ruang publik yang inklusif dan penuh kreativitas.

 

Editor : Heru Pratomo
#malioboro #Vibes #full pedestrian #Culture