RADAR MALIOBORO— Nama Fiji mungkin belum sepopuler Jepang atau Australia, tapi negara kepulauan di Samudra Pasifik Selatan ini menyimpan banyak hal menarik. Dari ratusan pulau tropis hingga keberagaman budaya, Fiji dikenal sebagai salah satu surga tropis yang masih relatif tenang.
Fiji terletak sekitar 2.000 kilometer di sebelah utara Selandia Baru dan terdiri dari lebih dari 300 pulau, dengan sekitar 100 pulau yang berpenghuni. Dua pulau terbesarnya, Viti Levu dan Vanua Levu, menjadi pusat kehidupan penduduk. Ibu kota Fiji, Suva, berada di Pulau Viti Levu dan menjadi pusat pemerintahan sekaligus ekonomi negara tersebut.
Memiliki jumlah penduduk sekitar 900 ribu jiwa, Fiji dikenal sebagai destinasi favorit untuk wisata alam dan bulan madu. Pantai berpasir putih, laut biru jernih, serta terumbu karang yang masih terjaga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dunia.
Secara sejarah, Fiji pernah menjadi koloni Inggris sejak 1874 sebelum akhirnya merdeka pada 1970.
Pengaruh kolonial ini masih terasa, salah satunya lewat penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Selain itu, Fiji juga memiliki dua bahasa resmi lain, yaitu Bahasa Fijian (Bau) dan Hindustani, yang mencerminkan keberagaman etnis di negara tersebut.
Penduduk Fiji terdiri dari etnis Melanesia sebagai penduduk asli, serta komunitas Indo-Fiji, keturunan pekerja asal India yang didatangkan pada era kolonial.
Keberagaman ini membentuk budaya Fiji yang kaya, mulai dari tarian tradisional, musik, hingga kuliner khas.
Di sektor pariwisata, Fiji tak hanya menawarkan pantai dan laut. Pulau Taveuni dikenal sebagai “Garden Island” karena keindahan hutannya, sementara Kepulauan Mamanuca populer untuk snorkeling dan menyelam. Aktivitas alam seperti arung jeram di Sungai Upper Navua juga menjadi pilihan wisata alternatif.
Meski berukuran kecil, Fiji juga aktif di panggung internasional, terutama dalam isu perubahan iklim, mengingat posisinya yang rentan terhadap kenaikan permukaan laut.
Fiji membuktikan bahwa negara kecil pun bisa memiliki pesona besar baik dari alam, budaya, maupun perannya di dunia global.
(Alena Mutiara)
Editor : Iwa Ikhwanudin