JOGJA – Sebuah ikon akomodasi bersejarah di jantung Kota Yogyakarta resmi berganti wajah.
Grand Inna Malioboro yang telah lama dikenal publik, kini bertransformasi menjadi Grand Hotel De Djokja, sebuah hotel bintang lima yang mulai beroperasi pada 16 Maret 2026.
Transformasi ini bukan sekadar pergantian nama.
Manajemen mengusung filosofi Heritage Legacy, Timeless Luxury, yaitu menghidupkan kembali nilai historis bangunan sekaligus menyajikan kemewahan modern yang khas Indonesia.
Berlokasi strategis di kawasan Malioboro, hotel ini langsung menarik perhatian wisatawan, terutama sejak momen libur Lebaran.
Grand Hotel De Djokja memiliki catatan sejarah panjang.
Dibangun pada tahun 1911 oleh arsitek Belanda, hotel ini semasa kolonial dikenal sebagai salah satu penginapan termewah untuk pejabat, bangsawan, dan tokoh internasional.
Sepanjang perjalanannya, properti ini beberapa kali berganti nama:
Hotel Asahi (1942), Hotel Merdeka (1948), Hotel Garuda (1950), Natour Garuda (1975), Inna Garuda (2001), hingga Grand Inna Malioboro (2017).
Kini, lebih dari satu abad sejak berdiri, nama asli Grand Hotel De Djokja digunakan kembali sebagai bentuk penghormatan pada warisan budaya Yogyakarta.
Tak hanya sebagai tempat menginap mewah, hotel ini juga menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Pada periode Desember 1945 hingga Maret 1946, bangunan ini sempat menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat di bawah komando Jenderal Sudirman.
Bahkan, sang panglima besar pernah berkantor di lokasi yang sama, sebelum akhirnya melanjutkan perjuangan gerilya.
Andreas Kahl, General Manager Grand Hotel De Djokja, menegaskan bahwa revitalisasi ini lebih dari sekadar bisnis perhotelan.
Baca Juga: PS6 Dipamerkan di Tokyo? Video Viral di X Ternyata April Fools (April Mop) Prank, Sony Fans Heboh
“Grand Hotel De Djokja telah menjadi saksi milestone sejarah dan ikon arsitektur kolonial yang memadukan keanggunan Eropa dengan estetika Jawa."
"Heritage Legacy, Timeless Luxury bukan sekadar visi, tetapi misi kami kepada tamu dan masyarakat,” ujarnya.
Meski mengusung standar hotel bintang lima, manajemen tetap mempertahankan elemen cagar budaya.
Sentuhan modern terlihat dari interior yang indah, nuansa dekat dengan alam, serta penggunaan seni daerah di setiap sudut ruangan.
Hotel ini berada di bawah naungan InJourney Hospitality (PT Hotel Indonesia Natour), anggota BUMN aviasi dan pariwisata InJourney.
Dalam masa soft opening sejak pertengahan Maret 2026, Grand Hotel De Djokja belum beroperasi sepenuhnya.
Meski demikian, antusiasme tamu sudah terlihat.
Baik wisatawan keluarga maupun pelancong individu banyak yang singgah untuk menginap atau sekadar menikmati kuliner.
Salah satu daya tarik awal adalah Wiji Restaurant, yang menyajikan konsep menu Pan-Asia.
Cita rasa yang familiar dengan lidah Asia menjadi nilai tambah bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman bersantap di hotel bersejarah ini.
Ke depan, manajemen berharap Grand Hotel De Djokja semakin dikenal dengan nama barunya, menjadi wajah baru kemewahan bernuansa asli Indonesia yang berpadu dengan tradisi dan budaya Jawa. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin