RADAR MALIOBORO - Selama musim liburan sekolah 2026, kawasan malioboro kembali pecah rekor dengan lebih dari 305 ribu orang yang memadati jalan utamanya dalam 10 hari saja.
Namun di balik lonjakan itu ada dua sisi lain yang menjadi kabar buruk, karena volume sampah melonjak drastis dan area resmi UMKM Teras Malioboro justru ditinggalkan pengunjung.
Berdasarkan penghitungan manual UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Jogja, jumlah pengunjung Jl. Malioboro periode 27 Juni-6 Juli 2026 mencapai 305.018 orang.
Tentunya dengan puncak di akhir pekan yang tembus hingga 47 ribu orang dalam sehari.
Angka ini pun disebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Emma Stone Kembali di Film Cruella 2, Disney Ungkap Jadwal Rilis Sekuelnya
Kepala UPT Fitria Dyah Anggraeni, memperkirakan selisihnya bisa 20-30% lebih tinggi karena masih ada pengunjung yang masuk lewat jalur tak terpantau petugas.
Lonjakan pengunjung ini membawa dampak nyata, volume sampah harian melonjak.
Biasanya berjumlah 1-2 ton menjadi 2,5 hingga 4,5 ton, memaksa petugas mempercepat jadwal penyisiran sampah dari 4-5 kali per shift menjadi setiap satu jam sekali.
Sampah yang paling sering ditemukan adalah botol dan kemasan makanan plastik yang ditinggalkan pengunjung usai berfoto di area pedestrian.
Di sisi lain, data Dinas Pariwisata DIY menunjukkan gambaran yang lebih luas.
Sepanjang periode libur sekolah (15 Juni-6 Juli), DIY secara keseluruhan mencatat 1.259.789 kunjungan wisatawan, dengan Gunungkidul jadi primadona baru (568.279 kunjungan), diikuti Sleman dan Bantul.
Baca Juga: Info Ala Honda Istimewa, Cegah Kerak Karbon Pada Motor Menggunakan Carbon Cleaner Honda
Namun di tengah membanjirnya angka ini, kunjungan ke Teras Malioboro sebagai kawasan yang sengaja dibangun pemerintah untuk mewadahi pedagang kaki lima secara tertata justru tercatat menurun.
Padahal Malioboro sendiri kerap disebut jadi destinasi terakhir wisatawan sebelum pulang untuk membeli oleh-oleh.
Fenomena ini menumbuhkan sebuah pertanyaan: jalan utama Malioboro memang begitu padat hingga sampahnya melonjak berkali-kali lipat, namun mengapa keramaian itu tidak ikut memberi dampak ke Teras Malioboro yang justru dirancang khusus menampung pengunjung dan pedagang di kawasan yang sama?