JOGJA - Saat ini banyak Gen Z yang membuat konten dengan sudut pandang POV tentang Slow Living di Yogyakarta. Konten seperti ini cukup sering muncul di media sosial.
Terutama bagi mereka yang sejak lama memiliki keinginan untuk tinggal atau kuliah di Yogyakarta. Melihat konten tersebut membuat keinginan itu semakin kuat.
Kontennya yang menampilkan kegiatan sehari-hari yang sederhana. Seperti aktivitas di jalan, suasana kota, dan momen santai di dalam mobil atau pun di motor. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat banyak orang tertarik.
Bagi sebagian orang, slow living di Yogyakarta diartikan sebagai menjalani rutinitas harian dengan lebih tenang. Contohnya berolahraga pagi di kawasan Malioboro, sarapan di pasar tradisional seperti Pasar Ngasem, makan siang di Kopi Klotok, berolahraga sore di Stadion Maguwoharjo, bersantai di kawasan Kota Baru, sunset di angkringan Pak Tomi sambil lihat kereta, dan menutup hari dengan makan gudeg dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Weekend Murah Tiket Kids Fun September Cuma 85K, Main 27 Wahana Sepuasnya
Ada juga yang membayangkan slow living sebagai bentuk kebebasan finansial dalam versi sederhana. Kegiatannya meliputi bersepeda keliling kota, jogging pagi sambil berinteraksi dengan warga, berbelanja jajanan tradisional dan produk UMKM di pasar, merawat tanaman, membaca buku, melukis, menyulam, dan bersantai di teras rumah sambil minum teh.
Yogyakarta dipilih karena menawarkan keseimbangan. Suasana kota yang tidak terlalu cepat, biaya hidup yang masih terjangkau, serta kemudahan akses terhadap berbagai fasilitas. Hal-hal tersebut yang membuat Yogyakarta dianggap cocok untuk konsep slow living.
Buat mahasiswa rantau ini tuh surga, biaya hidup masih aman, tempat healing banyak dan murah, orang-orangnya juga ramah, disapa "monggo" sama ibu-ibu pasar aja rasanya udah kayak disambut pulang.
Jadi wajar aja kalau sekarang banyak Gen Z yang gak cuma pengen liburan ke Jogja, tapi beneran manifesting buat tinggal di sini. Bukan kabur dari realita, tapi lebih pengen ngerasain hidup yang gak harus cepet terus, pelan-pelan tapi dinikmatin.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber