Seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura Bersatu di Yogyakarta 2026

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:17 WIB
Mengintip Keajaiban Kolaborasi Seniman Tiga Negara di Yogyakarta: Saatnya Budaya Menyapa Jiwa Anda!
Mengintip Keajaiban Kolaborasi Seniman Tiga Negara di Yogyakarta: Saatnya Budaya Menyapa Jiwa Anda!

 SLEMAN - Asia Tenggara bukanlah sekadar sekumpulan negara yang terikat oleh kedekatan geografis, melainkan sebuah keluarga besar yang dirajut oleh sejarah panjang migrasi, perdagangan, dan pertukaran budaya. Akar tradisi yang berabad-abad lamanya telah menembus batas-batas negara, menyatu dalam denyut nadi masyarakatnya yang penuh warna.  

​Mengakui ikatan batin yang kuat ini, sebuah perayaan kebudayaan yang menggugah jiwa siap digelar pada bulan Oktober 2026 ini. Yogyakarta, kota yang selalu bernapas dengan seni, akan menjadi tuan rumah bagi para seniman berbakat dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Mereka hadir untuk mementaskan dua karya emosional baru yang lahir dari rahim kolaborasi lintas negara.  

​Kehadiran mereka di Yogyakarta merupakan puncak keindahan dari inisiatif regional bertajuk Embracing Shared Heritage through Performing Arts. Selama empat bulan terakhir, jiwa-jiwa kreatif dari ketiga negara ini telah saling bertukar gagasan, merenungi makna sejati dari warisan budaya bersama yang kita miliki di Asia Tenggara.  

​Momentum emosional yang mempertemukan berbagai identitas sejarah ini terwujud berkat sinergi harmonis antara UNESCO dan Temasek Foundation. Kemitraan ini membuka jalan terang bagi terciptanya ragam kemungkinan baru dalam menafsirkan kekayaan tradisi melalui panggung seni pertunjukan.  

Baca Juga: Campak Merebak Lagi, New York Tetapkan Status Darurat Bencana

​Moe Chiba, Head of Culture dari UNESCO Regional Office in Jakarta, mengungkapkan bahwa karya seni sering kali memiliki kekuatan magis untuk menembus batas negara dengan cara yang sangat tak terduga. Menurutnya, inisiatif ini sengaja dihadirkan sebagai ruang rindu bagi para seniman yang selama ini jarang memiliki kesempatan untuk saling menyapa dan berkarya bersama.  

​Sejalan dengan sentimen tersebut, James Chan dari Temasek Foundation menyoroti betapa seni mampu menjadi oase pertemuan yang menenangkan. Beliau sangat berharap pertukaran tulus ini mampu mempererat tali persaudaraan antarbudaya, menebarkan benih harmoni di tengah keberagaman kawasan yang kita cintai.  

​Menyelami lebih dalam keajaiban karya yang disuguhkan, penonton akan disapa oleh pertunjukan pertama yang menyentuh hati berjudul Hutan. Karya ini akan menghipnotis para penikmat seni di ajang Pesta Boneka pada tanggal 6 hingga 7 Oktober 2026, yang berlokasi di Kampung Media, Yogyakarta.  

​Hutan bukanlah sekadar pementasan biasa; ia adalah sebuah perjalanan spiritual yang mengeksplorasi hubungan sakral antara manusia dengan alam dan budayanya melalui kepingan ingatan. Luar biasanya, pertunjukan ini dirancang dengan penuh kasih melalui beberapa pendekatan inklusif, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk teman-teman penonton neurodivergen.  

​Menyusul kehangatan Hutan, pertunjukan kedua yang tak kalah menggetarkan relung hati adalah Rumah dari Lidah. Karya ini dijadwalkan untuk memukau panggung Bedog Arts Festival pada tanggal 9 hingga 10 Oktober 2026, bertempat di Studio Banjarmili.  

Baca Juga: UGM Batasi Kegiatan Olahraga bagi Mahasiswa dan Masyarakat Umum di Kawasan Kampus, Ini Penjelasannya

​Rumah dari Lidah membawa kita menelusuri lorong waktu warisan identitas Peranakan dan ikatan sejarahnya yang lekat dengan Indonesia, Malaysia, serta Singapura. Pertunjukan ini adalah sebuah potret melankolis tentang bagaimana budaya saling menyapa dari generasi ke generasi melalui proses migrasi.  

​Sang sutradara, Melati Suryodarmo, menegaskan keinginannya untuk menggali lebih dari sekadar satu narasi tunggal tentang indahnya budaya Peranakan. Beliau ingin membuka lembaran-lembaran memori tersembunyi—mulai dari bahasa, aroma makanan, hingga kepingan sejarah pribadi—yang mungkin selama ini terabaikan atau terlupakan oleh zaman.  

Baca Juga: Leonardo DiCaprio Soroti Kebakaran Hutan Indonesia, Nasib Orangutan Jadi Perhatian

​Sejak inisiatif ini mulai bersemi pada tahun 2025, ia telah menyatukan hati banyak seniman, mahasiswa, peneliti, dan pelaku budaya dalam berbagai ruang diskusi yang penuh makna. Kini, tiba saatnya publik di Yogyakarta menjadi saksi hidup atas keindahan persaudaraan Asia Tenggara yang dirayakan melalui seni di panggung Pesta Boneka dan Bedog Arts  Festival.  

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Seni Pertunjukan Temasek Foundation yogyakarta unesco warisan budaya