RADAR MALIOBORO - Tradisi Jawa banyak menyimpan nilai budaya dan spiritual yang masih lestari hingga kini. Salah satunya adalah “Sadranan atau nyadran” yang dikenal juga dengan Ruwahan.
Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta “Sraddha” yang artinya keyakinan. Nyadran sendiri merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah tiada, biasanya dilaksanakan menjelang bulan Ramadan dan menjadi momentum penting bagi masyarakat Jawa untuk mengingat kematian serta memperkuat nilai spiritual. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga kerukunan dan mempererat persaudaraan antarwarga.
Dilansir dari laman kebudayaan.jogjakota.go.id, Senin (12-01-2026), tradisi Nyadran terdiri dari berbagai kegiatan. yaitu
1. Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan oleh masyarakat dan keluarga.
2. Melakukan Kirab, yaitu arak-arakan peserta Nyadran menuju ketempat upacara adat dilaksanakan.
3. Ujub, yaitu menyampaikan maksud dari serangkaian upacara adat Nyadran oleh Pemangku Adat.
4. Doa, yaitu melakukan kegiatan doa bersama dipimpin oleh pemangku adat ditujukan kepada roh leluhur yang sudah tiada.
5. Kembul Bujono dan Tasyakuran, yaitu setelah dilakukan doa bersama masyarakat akan menggelar Kembul Bujono atau makan bersama dengan setiap keluarga yang mengikuti kenduri dengan membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa berupa makanan tradisional yang beraneka macam.
Tradisi Nyadran bukan sekedar ritual tahunan, melainkan warisan budaya Jawa yang sarat makna dan menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap mampu bertahan di tengah modernisasi.
(Nabila Kurnia Ekahapsari)
Sumber :
https://kebudayaan.jogjakota.go.id/