Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mahasiswa Ciptakan Aika, AI Pendamping Kesehatan Mental, Juara 1 EDU Chain Hackathon 2025 Internasional

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 4 Maret 2026 | 12:32 WIB

Giga Hidjrika Aura Adkhy
Giga Hidjrika Aura Adkhy

YOGYAKARTA – Di tengah kesenjangan akses layanan psikolog di Indonesia, seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan solusi inovatif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mendapat pengakuan tingkat internasional.

Giga Hidjrika Aura Adkhy (23), mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik UGM, mengembangkan UGM-AICare dengan fitur utama bernama Aika. Inovasi ini membawanya meraih Juara Pertama (First Winner) kategori Play Track pada kompetisi bergengsi EDU Chain Hackathon: Semester 3 tahun 2025, dengan total hadiah pool mencapai 250 ribu dolar AS.

Inspirasi Aika muncul saat Giga mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool, Inggris, pada 2024. Ia melihat temannya dengan mudah mengakses layanan psikolog kampus hanya melalui chat di ponsel. Berbeda dengan kondisi di Indonesia, di mana rasio psikolog terhadap mahasiswa yang membutuhkan masih timpang dan interaksi sering terhambat stigma atau rasa malu.

“Motivasi utama proyek UGM-AICare ini selain untuk syarat kelulusan adalah mendukung teman-teman mendapatkan proper mental health care,” ujar Giga kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).

Aika dirancang sebagai AI agent yang lebih otonom dibandingkan chatbot LLM generatif biasa. Pengguna dapat berinteraksi melalui percakapan teks seperti mengobrol dengan teman sungguhan. Aika menggali keluhan psikologis, menganalisis kondisi, lalu memberikan tindak lanjut:

- Jika keluhan ringan: Saran mandiri seperti teknik pernapasan, istirahat cukup, atau mindfulness.
- Jika berat: Langsung menghubungkan ke psikolog profesional, menyusun rangkuman, penilaian awal, kemungkinan diagnosis, serta rekomendasi untuk diteruskan ke konselor.

“Aika tidak menggantikan psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah,” jelas Giga.

Sistem ini melibatkan tiga pengguna utama: mahasiswa sebagai pengguna, psikolog/konselor sebagai penerima laporan, serta admin sistem. Pasca-konseling, Aika memantau kondisi melalui pengingat email, dan rencananya akan terintegrasi dengan Telegram untuk membentuk support group antar pengguna.

Keunggulan lain: Privasi terjaga, pengguna lebih leluasa bercerita tanpa rasa takut dihakimi, sehingga diharapkan mendorong lebih banyak orang mengakses layanan sejak dini dan mengurangi hambatan psikologis seperti malu atau ragu.

Proyek ini dikembangkan sebagai bagian skripsi Giga di bawah bimbingan dosen DTETI FT UGM. Platform UGM-AICare dapat diakses melalui ugm-ai-care.vercel.app, dan Aika mengadopsi pendekatan mirip metode kerja psikolog: menggali masalah melalui dialog hingga memberikan insights terarah.

Giga berharap Aika terus dikembangkan lebih luas, tidak hanya untuk mahasiswa UGM tapi juga masyarakat umum, guna meningkatkan kesadaran dan akses kesehatan mental di Indonesia.

Prestasi ini menambah daftar capaian mahasiswa UGM di kancah internasional, sekaligus menunjukkan potensi AI dalam mendukung isu sosial krusial seperti kesehatan jiwa generasi muda. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Ciptakan #pendamping #kesehatan mental #penelitian mahasiswa