RADAR MALIOBORO - Di balik nama Yogyakarta terdapat sejarah panjang tentang lahirnya sebuah daerah yang kaya akan filosofi, budaya, dan sejarah.
Nama tersebut tidak tercipta secara kebetulan, tetapi berakar dari sejarah panjang kerajaan Mataram, yang hingga kini terkenal sebagai kota budaya di Indonesia.
Awal mula berdirinya kota Yogyakarta bermula dari Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu sebuah perjanjian yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua pusat pemerintahan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Pangeran Mangkubumi menjadi tokoh utama dalam peristiwa tersebut.
Baca Juga: Jejak Perjalanan Pakualaman, Berawal Dari Hadiah Politik Hingga Era Keistimewaan
Usai perlawanan panjang melawan VOC bersama rakyatnya, ia berhasil mendapatkan wilayah Yogyakarta sebagai wilayah kekuasaannya dan diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I.
Ngayogyakarta Hadiningrat secara resmi ditetapkan oleh Sultan Hamengkubuwono I, sebagai nama kerajaan dan sekaligus sebagai pusat pemerintahan kesultanan.
Nama tersebut lebih dari sekadar gelar administratif, melainkan juga doa serta harapan agar wilayah tersebut berkembang menjadi pusat budaya, kebijakan, dan kehidupan spiritual yang mulia.
Yogyakarta berasal dari bahasa Jawa Kuno yakni “Ayogya/Ayodhya” yang berarti kedamaian, dan kata “Karta” yang berarti baik atau sejahtera.
Sehingga bila dirangkai secara keseluruhan, nama Ngayogyakarta Hadiningrat mencerminkan harapan sebuah negeri yang makmur, terhormat, dan harmonis.
Uniknya, penyebutan Yogyakarta yang kini kerap menjadi Jogja mempunyai sebuah kisah yang cukup menarik.
Pada masa Kolonial, lidah orang Belanda mengalami kesulitan dalam menyebutkan “Nga” sehingga penyebutan Ngayogyakarta berubah menjadi Yogyakarta.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat kemudian menyederhanakannya menjadi Jogja.
Nama yang hingga kini akrab dan lekat di hati, baik bagi warga lokal maupun para wisatawan yang datang berkunjung.
Nama Yogyakarta mencerminkan dinamika sejarah kerajaan Jawa sekaligus perkembangan budaya masyarakatnya.
Kota yang menyimpan nilai luhur, perjuangan, dan harapan tentang negeri yang damai.
Tak heran, setiap sudut Yogyakarta selalu menjadi ruang istimewa bagi siapapun yang ingin kembali. (Desfina Citra)