Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Campor Lorjuk Pamekasan, Kuliner Langka yang Diburu Wisatawan

Magang Radar Malioboro • Selasa, 2 Desember 2025 | 22:47 WIB

Photo
Photo
Campor lorjuk dikenal sebagai salah satu kuliner khas Pamekasan yang memakai lorjuk, kerang laut kecil berbentuk memanjang yang hanya bisa ditemukan saat air surut.

Lorjuk hidup di pasir pesisir Madura dan proses mendapatkannya tidak mudah; warga harus menggali pasir ketika laut sedang surut, sehingga bahan ini dianggap cukup langka dan bernilai.

Kelangkaan inilah yang membuat campor lorjuk punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama mereka yang ingin mencicipi kuliner autentik yang tidak bisa ditemukan di banyak daerah lain.

Campor lorjuk disajikan dengan lontong atau bihun, tauge, kacang tanah, keripik singkong, dan kuah merah yang menjadi ciri khasnya.

Kuah ini dibuat dari petis lorjuk yang memberikan rasa gurih alami, lalu dipadukan dengan rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, merica, serta sedikit aroma pala.

Perpaduan kerang laut dan kuah pekat bumbu Madura membuat rasanya berbeda dari soto atau campuran kuah tradisional lain.

Banyak penjual mengatakan bahwa kuah lorjuk sudah gurih dari bahan alaminya tanpa tambahan penyedap buatan.

Cara mengolah lorjuk juga berpengaruh pada kelezatan hidangan ini. Kerang direbus hingga mengeluarkan sari lautnya, lalu dicampurkan ke dalam kuah bumbu.

Teksturnya kenyal dan lembut, memberikan sensasi khas seafood yang berpadu dengan kerupuk renyah dan kacang manis.

Tidak sedikit wisatawan, termasuk turis mancanegara, yang sengaja datang ke Pamekasan hanya untuk mencicipi makanan tradisional ini.

Dari sisi budaya, campor lorjuk merepresentasikan kehidupan masyarakat pesisir Madura yang bergantung pada kondisi laut.

Karena lorjuk hanya bisa dipanen pada waktu tertentu, makanan ini tidak selalu tersedia setiap hari.

Warga yang biasa berburu lorjuk turun ke pantai saat surut, menggunakan alat sederhana untuk menggali pasir dan mencari lorjuk yang tersembunyi.

Aktivitas ini telah menjadi tradisi turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas wilayah pesisir Pamekasan.

Meski begitu, keberadaan lorjuk menghadapi tantangan lingkungan. Perubahan kondisi laut, cuaca, dan peningkatan permintaan membuat lorjuk menjadi semakin sulit ditemukan.

Jika tidak ada pengelolaan dan pemanenan yang bijak, populasi lorjuk bisa menurun dan kuliner ini terancam makin langka.

Beberapa pelaku kuliner di Pamekasan bahkan menyebut bahwa persediaan lorjuk tidak selalu stabil, sehingga produksi campor lorjuk tergantung pada hasil panenan harian.

Harga campor lorjuk terbilang terjangkau untuk kuliner langka. Beberapa warung menjualnya mulai dari belasan ribu rupiah, dengan porsi yang cukup mengenyangkan.

Banyak wisatawan menganggap harga tersebut sebanding dengan pengalaman menikmati makanan khas yang sulit ditemui di tempat lain. Rasa unik, proses tradisional, dan kelangkaannya membuat campor lorjuk semakin diminati.

Campor lorjuk cocok untuk penggemar seafood atau siapa pun yang ingin mencoba rasa baru dari kuliner Nusantara.

Waktu terbaik untuk menemukannya biasanya pada musim laut surut, ketika lorjuk lebih mudah didapatkan. Jika berkunjung ke Pamekasan, hidangan ini sering direkomendasikan sebagai salah satu makanan yang wajib dicoba.

Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, cara hidup masyarakat pesisir, dan hubungan manusia dengan laut.

Campor lorjuk menjadi bukti bahwa makanan tradisional mampu bertahan dan tetap dicari, bahkan oleh wisatawan mancanegara, selama tetap dijaga dan dilestarikan.

Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#campor lorjuk