RADAR MALIOBORO - Ketika menyantap kuliner Jawa, sering kali lidah langsung merasakan sentuhan manis pada berbagai hidangan. Citra rasa manis ini menjadi karakter khas yang melekat pada masakan jawa. Fenomena ini bukan tanpa alasan, ada sejumlah alasan kenapa masakan jawa, termasuk Yogyakarta rasanya cenderung manis.
Terdapat makna di balik rasa manis Jawa
Dilansir dari laman Antara, Jumat (09-01-2026), Menurut Prof. Bani Sudardi, Guru Besar Ilmu Budaya dari Fakultas Ilmu Budaya UNS Surakarta. Masakan Jawa terbagi menjadi tiga golongan besar, yakni masakan Jawa keraton (Solo dan Yogyakarta), masyarakat Banyumasan, dan masyarakat Brangwetan (Jawa Timur).
Di antara ketiga kelompok tersebut, masyarakat yang bermukim dekat dengan lingkungan keratonlah yang paling mengemari rasa manis. Hal ini berakar dari filosofi keraton yang memandang rasa manis sebagai simbol kenikmatan, keharmonisan, dan kebahagiaan.
Pengaruh Sejarah Tanam Paksa
Ketika Belanda menjajah Indonesia tahun 1830. Di area Jawa Tengah dan Jawa Timur, petani dipaksa menanam tebu, karena menyadari lahan di wilayah tersebut baik untuk ditanami tebu. Lalu saat krisis pangan tahun 1830-1870an, tebu menjadi alternatif bertahan hidup dengan memanfaatkan air perasan tebu untuk semua makanan. Bisa dikatakan semua masyarakat jawa jadi akrab dengan rasa manis.
Baca Juga: Angkringan Jogja, Solusi Kuliner Murah Saat Akhir Bulan
Kelimpahan Pohon Kelapa di Jawa
Cukup banyak pohon kelapa yang tumbuh di Jawa, terutama di pesisir Jawa. Dengan ada banyaknya pohon kelapa, nira nya diolah menjadi gula merah oleh masyarakat dan digunakan luas dalam masakan lokal. Hingga masakan jawa melekat erat dengan rasa manis.
Rasa manis masakan jawa, bukanlah sekadar kebetulan. Ada sejumlah faktor yang melatarbelakanginya.
(Nabila Kurnia Ekahapsari)
Sumber :
https://www.antaranews.com/