Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Commitment Issue, Seberapa Bahayakah dalam Hubungan? Begini Penjelasannya

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 29 November 2024 | 13:36 WIB
Commitment Issue, Seberapa Bahayakah dalam Hubungan? (Pixabay)
Commitment Issue, Seberapa Bahayakah dalam Hubungan? (Pixabay)

RADAR MALIOBORO - Hubungan Tanpa Status atau biasa disingkat HTS belakangan ini masih populer. Konsep hubungan ini adalah hubungan yang telah terjalin namun tiada kejelasan terkait status. Hubungan seperti ini telah umum di era digital yang semakin marak sehingga batas hubungan menjadi semakin kabur. Salah satu alasan banyak anak muda adalah ketakutan dalam berkomitmen atau dapat dikenal sebagai Commitment issue.

Commitment issue pun hanya terkait hubungan percintaan, tetapi hubungan persahabatan maupun profesional atau bahkan hubungan intrapersonal. Definisi _Commitment_ atau komitmen sendiri adalah niat untuk mempertahankan suatu hubungan dalam jangka waktu panjang. Istilah _commitment issue_ berarti kondisi di mana seseorang yang sulit berkomitmen atau terikat ke dalam suatu hubungan jangka panjang.

Tanda-tanda orang yang memiliki commitment issue jarang diperlihatkan secara jelas kecuali orang tersebut menyadari sendiri atau orang terdekat yang mengetahui. Namun, tanda-tanda berikut ini biasanya ditunjukkan oleh seseorang dengan commitment issue sebagai berikut:

1. Menghindari menjalin Hubungan yang lebih serius

Tanda yang paling utama atau mudah dikenali dari awal seseorang yang memiliki commitment issue adalah menghindar hubungan yang lebih serius atau mengikat. Seseorang mungkin hendak menjalani suatu hubungan, namun ketika diajak atau merasa harus mulai naik ke tahap atau tingkat yang lebih serius, orang itu akan memilih mengakiri hubungan atau akan selalu menjawab belum siap, bahkan menghindari topik yang berbau hubungan lebih serius.

2. Tidak memikirkan masa depan hubungan

Ketika hendak menjalankan suatu hubungan atau berada pada titik tertentu dalam suatu hubungan, kebanyakan orang akan memikirkan masa depan atau prospek hubungan jangka panjang dan perlu waktu dalam memutuskan. Orang dengan commitment issue cenderung ingin menjalani hubungan tanpa bahkan enggan memikirkan masa depan hubungan. Bisa lebih parah memilih mengakhiri hubungan yang dijalaninya.

3. Selalu merasa ragu

Orang yang memiliki commitment issue penuh akan keraguan. Mereka selalu tidak yakin apakah orang yang menjalani hubungan bersungguh-sungguh atau meragukan perasaannya sendiri. Ketika hubungan mencapai keberhasilan, rasa ragu pun masih timbul dari diri mereka. Ketika berada titik mulai memikirkan masa depan hubungan, merasa adanya keterhubungan yang intens, dan menikmati kebersamaan dengan orang tidak menyurutkan keraguan serta pertanyaan yang terus mengitari kepala terkait hubungan yang sedang dijalaninya.

4. Tidak merasa perasaan terikat secara emosional

Umumnya orang yang merasa terikat emosional dengan orang yang menjalani hibungan dengannya akan timbul keinginan menjaga hubungan tahan lama dan berlanjut. Selain itu, timbul perasaan tidak ingin kehilangan. Berbeda dengan orang yang memiliki commitment issue biasa menunjukkan tanda ingin menjalani hubungan namun tidak memiliki ketertarikan secara emosional.

Baca Juga: Gereja Bebek Karet di Madrid: Misa Penuh Humor, Cinta, dan Kejutan yang Bikin Pengunjung Terkagum-Kagum

Mengutip dari laman PsychCentral, hingga saat ini peneliti belum menemukan penyebab ada commitment issue, namun ada beberapa kemungkinan penyebab masalah komitmen. Yang mungkin menjadi penyebab paling pertama adalah trauma masa lalu.

Seseorang yang belum menyelasaikan apa yang harus ditanganinya pada masa kanak-kanak atau mengalami peristiwa buruk dalam hidupnya seperti pelecehan, perselingkuhan, pengkhianatan sehingga kepercayaan kepada orang lain hilang atau sulit mempercayai orang sehingga enggan berkomitmen.

Berhubungan dengan trauma masa lalu, pola asuh orang tua pun juga menjadi penyebab kemungkinan orang takut untuk berkomitmen.

Misalnya orang yang dikontrol oleh orang tua dalam hal apapun termasuk pergaulan dan mengabaikan emosi bahkan melakukan kekerasan kepada anak membuat sang anak merasa tidak ingin terikat akan hubungan atau menjalin hubungan di masa depan karena merasa menjalin hubungan mengekang kebebasannya.

Atau anak yang melihat pertengkaran orang tua atau orang tua bercerai dapat membuat sang anak tidak ada keinginan menjalin hubungan serius karena takut akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami orang tuanya.

Berikutnya, terapi pasangam, di mana dalam menjalani interaksi sampai tahap mengikat dalam suatu hubungan perlunya kesediaan dari kedua belah pihak. Hal ini membuat sesi terapi pasangan dapat diterapkan agar dapat menghadapi masalah bersama dalam melangkah ke jalan selanjutnya. Hal yang paling penting dan selau ditekankan dalam menjalani hubungan adalah komunikasi.

Komunikasi dengan orang yang menjalin hubungan dengan terbuka dan jujur terkait kecemasan, keraguan, dan ketakutan. Dengan komunikasi kedua belah pihak akan semakin memahami satu sama lain dan mencari jalan keluar terkait permasalahan bersama sehingga hubungan menjadi sehat.

(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; berbagai sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#hubungan #percintaan #persahabatan #Commitment issue