Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengenal AUKUS, Perjanjian Kapal Selam Nuklir Gagasan Australia, Inggris, dan Amerika Serikat

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 21 Oktober 2025 | 22:46 WIB
Ilustrasi kemungkinan desain kapal selam bertenaga nuklir AUKUS. (Wikimedia Commons/Public Domain)
Ilustrasi kemungkinan desain kapal selam bertenaga nuklir AUKUS. (Wikimedia Commons/Public Domain)

RADAR MALIOBORO – AUKUS kembali menjadi sorotan setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan peninjauan ulang terhadap proyek kapal selam nuklir yang menjadi inti perjanjian tersebut.

Lalu, apa sebenarnya AUKUS ini?

AUKUS merupakan kerja sama keamanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Namanya diambil dari singkatan tiga negara tersebut (AU - UK - US).

Tujuan utama kerja sama ini adalah untuk memperkuat pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Terutama dalam menghadapi pengaruh militer Tiongkok yang terus meningkat.

Kerja sama ini pertama kali diumumkan pada 2021, dan nilainya sangat besar, yaitu sekitar A$368 miliar (setara Rp3.700 triliun) selama 30 tahun. AUKUS menjadi proyek pertahanan terbesar dalam sejarah Australia.

Ada dua pilar besar dalam perjanjian ini. Pilar pertama berkaitan dengan penyediaan dan pengiriman kapal selam serang bertenaga nuklir. Australia bakal membeli tiga kapal selam serang bertenaga nuklir dari AS mulai tahun 2032. Australia juga punya opsi untuk membeli dua kapal selam tambahan.

Selanjutnya, Australia dan Inggris akan membangun kapal selam baru bersama-sama. Proyek ini akan memakai desain Inggris, namun menggunakan teknologi dari ketiga negara.

Kapal selam jenis ini bisa menyelam lebih lama dan mempunyai jangkauan jauh lebih luas dibanding kapal selam diesel yang dipakai oleh Australia sekarang.

Australia telah mengalokasikan dana sebanyak $3 miliar untuk meningkatkan laju produksi kapal selam AS, dan pembayaran disebut akan tetap berjalan sesuai jadwal meskipun ada tinjauan ulang.

Pilar kedua berfokus pada kolaborasi ketiga negara dalam mengembangkan teknologi militer canggih. Selain kapal selam, AUKUS juga mencakup kerja sama di bidang rudal hipersonik, robot bawah laut, dan kecerdasan buatan (AI).

Tujuannya adalah agar ketiga negara mempunyai teknologi militer paling mutakhir dan bisa saling membantu di medan tempur masa depan.

Walaupun tidak pernah menyebut Tiongkok secara terang-terangan, AUKUS jelas punya arah ke sana. Negara-negara barat khawatir dengan armada Tiongkok di Laut Cina Selatan dan sekitarnya yang semakin aktif.

Dengan AUKUS, mereka ingin memastikan kawasan Indo-Pasifik tetap “aman dan bebas.”

Apa untungnya AUKUS untuk Australia?

Pengaruhnya bagi Australia tentunya adalah negara ini memiliki potensi untuk naik kelas di dunia militer. Untuk pertama kalinya, Australia akan mempunyai kapal selam bertenaga nuklir, teknologi yang sebelumnya hanya dimiliki AS dan Inggris.

Dengan ini, kapal selam Australia bisa beroperasi lebih jauh dan lebih lama. Bahkan, kapal selam itu sanggup melakukan serangan jarak jauh jika diperlukan.

Selain itu, melalui perjanjian ini, awak kapal Australia akan dikirim ke AS dan Inggris untuk pelatihan dan belajar cara mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir.

Lalu, apa untungnya kesepakatan ini bagi Inggris dan AS?

Bagi Inggris, AUKUS membuka lapangan kerja baru di Inggris. Diperkirakan 7.000 posisi akan tercipta untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir baru yang akan dilakukan di Inggris.

Untuk Amerika Serikat, AUKUS dapat memperluas jangkauan militernya di Asia-Pasifik. Mulai 2027, kapal selam nuklir AS dan Inggris bisa berlabuh di Perth, Australia Barat.

Proyek raksasa ini tentu memiliki sejumlah tantangan. Total biayanya yang mencapai ratusan miliar dolar dan butuh puluhan tahun hingga proyek ini selesai tentu memicu kekhawatiran Australia yang mungkin kekurangan kapal sebelum kapal selam baru datang.

Australia juga bukan negara pemilik senjata nuklir, sehingga beberapa pihak khawatir bahwa transfer teknologi ini dapat menimbulkan risiko penyalahgunaan.

Selain itu, pemerintahan Trump saat ini sedang meninjau ulang AUKUS agar sesuai dengan kebijakan “America First.” Meskipun begitu, setelah bertemu PM Australia Anthony Albanese di Washington pada Senin (20/10/2025), Trump menegaskan bahwa proyek ini tetap akan berjalan.

Sejumlah negara di kawasan juga menyuarakan kekhawatiran bahwa kapal selam nuklir bisa memicu ketegangan baru di Asia Tenggara.

(Maulina)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kapal selam nuklir #aukus #AUKUS CLASS