Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lima Perbedaan Menonjol dari Praktik Ibadah NU dan Muhammadiyah

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯

 

NU dan MU boleh berbeda, tapi tidak boleh bermusuhan. (Islamadina)
NU dan MU boleh berbeda, tapi tidak boleh bermusuhan. (Islamadina)

RADAR MALIOBORO - Perbedaan praktik ibadah antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah kerap menjadi sorotan publik, terutama saat Ramadan dan Idulfitri.


Advertisement

Meski sering diperdebatkan, perbedaan ini sejatinya lahir dari metode pemahaman agama yang berbeda, bukan dari perbedaan akidah.

Secara umum, NU banyak merujuk pada mazhab Syafi’i yang menekankan pelestarian ilmu fiqih dari ulama klasik.

Sementara itu, Muhammadiyah lebih menekankan langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan rasional dan kontekstual.

Advertisement

Perbedaan rujukan inilah yang kemudian memengaruhi praktik ibadah sehari-hari.

1. Qunut Subuh
NU menganjurkan membaca qunut pada salat Subuh sebagai penyempurna Shalat, sementara Muhammadiyah tidak menggunakannya sama sekali.

2. Jumlah Rakaat Tarawih
NU umumnya melaksanakan Tarawih 20 rakaat, sedangkan Muhammadiyah 8 rakaat.

Advertisement

3. Dzikir dan Doa Setelah Salat
Dalam tradisi NU, dzikir dan doa sering dibaca dengan suara keras, sementara Muhammadiyah melakukannya secara pelan dan personal.

4. Praktik Ibadah Kolektif
NU mengenal tradisi tahlilan, yasinan, dan selamatan sebagai bagian dari ekspresi ibadah sosial, sedangkan Muhammadiyah tidak menjadikannya sebagai amalan keagamaan, karena tidak ditemukan contoh eksplisit dari Rasulullah.

5. Penentuan Awal Bulan Hijriah (biasanya untuk Ramadhan dan Idul Fitri)
NU mengutamakan pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda dengan alat bantu optik atau yang disebut rukyatul hilal, namun tetap mempertimbangkan perhitungan ilmiah. Sementara Muhammadiyah secara penuh menggunakan perhitungan ilmiah atau yang juga disebut metode hisab.

Meski berbeda dalam praktik, NU dan Muhammadiyah memiliki persamaan mendasar, yaitu sama-sama berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah serta bertujuan membentuk umat yang taat dan berakhlak.

Perbedaan ini justru memperkaya wajah Islam Indonesia, menunjukkan bahwa keberagaman dapat berjalan seiring dengan persatuan.

(Affrendi Kurniawan)

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber

Artikel Terkait

PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu 17 Juni 2026, Berbeda dengan Pemerintah dan Muhammadiyah

PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu 17 Juni 2026, Berbeda dengan Pemerintah dan Muhammadiyah

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi menetapkan awal bulan Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Rabu Kliwon, 17 Juni 2026 Masehi. Keputusan ini diambil setelah hilal tidak terlihat di seluruh titik pemantauan.

Jelang Muktamar NU, Tokoh-Tokoh Nahdliyin Serukan Pembenahan Organisasi

Jelang Muktamar NU, Tokoh-Tokoh Nahdliyin Serukan Pembenahan Organisasi

Pengasuh Ponpes Minggir KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq, mengingatkan posisi NU bagi Indonesia bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa. 

Kenalan dengan ChatHPT: AI Keagamaan yang Diluncurkan oleh Muhammadiyah

Kenalan dengan ChatHPT: AI Keagamaan yang Diluncurkan oleh Muhammadiyah

Muhammadiyah akan memperkenalkan ChatHPT, asisten berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu masyarakat mengakses dan memahami putusan serta fatwa Majelis Tarjih. Peluncuran layanan tersebut dijadwalkan berlangsung

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer