Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tugu Jam Malioboro, Penanda Waktu Peninggalan Kolonial

M
Tugu Ngejaman Malioboro Kota Jogja. (Pinterest/gjlshh)
Tugu Ngejaman Malioboro Kota Jogja. (Pinterest/gjlshh)

Advertisement

 

Advertisement

RADAR MALIOBORO - Tugu Jam di sekitar kawasan Malioboro adalah salah satu jejak sejarah yang sering tidak disadari keberadaannya oleh banyak orang.

Di balik bentuknya yang sederhana, tugu ini menjadi saksi bisu perjalanan Kota Jogja, terutama pada masa kolonial Belanda. 

Masyarakat menyebut bangunan ini sebagai Tugu Ngejaman, sebutan yang muncul karena fungsinya sebagai penunjuk waktu bagi warga sekitar.

Di masa kolonial, masyarakat menyebutnya “Stadsklok” atau “Jam Kota”, yang menandakan bahwa bangunan ini menjadi pusat pengaturan waktu di tengah keramaian Yogyakarta.

Tugu Ngejaman terletak di Jalan Marga Mulya, tepat di depan GPIB Marga Mulya Yogyakarta, Kecamatan Gondomanan.

Bentuk bangunan ini cukup sederhana, dengan alas persegi setinggi sekitar 1,5 meter dan di bagian atasnya terdapat sebuah jam berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 45 sentimeter.

Ketika pertama kali beroperasi, jam tersebut menggunakan sistem pegas yang perlu diputar manual oleh masyarakat atau petugas agar waktu yang ditunjukkan tetap berjalan dengan benar. 

Pada tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda memberikan Tugu Ngejaman sebagai hadiah dalam rangka memperingati seratus tahun kembalinya kekuasaan Belanda atas Jawa setelah berakhirnya masa pendudukan Inggris.

Maka dari itu, tugu ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga mengandung makna politik yang kuat pada masa kolonial.

Keberadaannya mencerminkan modernitas yang dihadirkan Belanda serta menunjukkan bagaimana mereka turut mengatur ruang dan kehidupan sosial masyarakat.

Advertisement
Editor : Meitika Candra Lantiva
Sumber : Instagram @hey.yogya

Artikel Terkait

Bank Sampah Berlian 08 Yogyakarta Olah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

Bank Sampah Berlian 08 Yogyakarta Olah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

Bank Sampah Berlian 08 di Kampung Tompeyan, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, mengembangkan inovasi pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif melalui teknologi pirolisis. Inovasi ini dimanfaatkan untu

Seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura Bersatu di Yogyakarta 2026

Seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura Bersatu di Yogyakarta 2026

Saksikan keajaiban kolaborasi seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura di Yogyakarta Oktober ini. Pertunjukan memukau yang membangkitkan kenangan warisan budaya bersama.

Lari Bukan Sekadar Olahraga, Kini Jadi Gaya Hidup Anak Muda

Lari Bukan Sekadar Olahraga, Kini Jadi Gaya Hidup Anak Muda

Lari kini menjadi gaya hidup anak muda, bukan sekadar olahraga. Komunitas lari, fun run, dan data Strava 2025 menunjukkan tren hidup sehat semakin berkembang di Yogyakarta dan kota lainnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer