RADAR MALIOBORO - Bursa transfer sepak bola selama ini dikenal sebagai proses jual beli pemain antar klub. Bagi penonton, ini terlihat wajar dan bahkan seru. Namun di balik itu, ada sisi gelap yang jarang dibahas, terutama ketika transfer melibatkan pemain muda dari negara miskin.
Dalam praktik yang disebut football trafficking, banyak anak dan remaja dari Afrika dan Amerika Selatan dibawa ke Eropa atau Asia dengan janji trial atau kontrak profesional. Mereka berangkat lewat orang yang mengaku sebagai agen. Keluarga diminta membayar biaya besar, bahkan menjual aset.
Kenyataannya, setibanya di luar negeri, tidak ada klub yang menunggu. Pemain akhirnya terlantar tanpa uang, izin tinggal, atau perlindungan hukum, melansir dari laporan akademik dan investigasi internasional.
Masalah ini makin besar sejak aturan sepak bola Eropa berubah pada 1995. Sejak saat itu, klub-klub Eropa mulai mencari pemain murah dari luar Uni Eropa, termasuk anak di bawah umur. Situasi ini membuka celah bagi agen ilegal untuk mengambil keuntungan dari mimpi pemain dan keluarganya.
Meski begitu, tidak semua bursa transfer adalah perdagangan manusia. Banyak transfer dilakukan secara legal dan profesional. Masalah muncul ketika prosesnya melibatkan agen ilegal, dokumen palsu, dan pemain yang masih di bawah umur. Ellen Chiwenga, agen resmi FIFA, menyebut pelaku trafficking sering kali bukan agen terdaftar, melainkan individu yang memanfaatkan kemiskinan dan minimnya informasi keluarga pemain, melansir dari Mission 89.
Saat ini, FIFA telah memperketat aturan agen dan sistem transfer. Mulai tahun 2023, tidak semua orang bisa lagi mengaku sebagai agen. Agen wajib lulus ujian FIFA, terdaftar resmi Langkah ini juga mendapat dukungan dari UNODC (Badan PBB yang mengurusi isu narkoba, kejahatan, korupsi dan terorisme) yang menilai transparansi penting untuk mencegah kejahatan dan eksploitasi dalam sepak bola.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin