RADAR MALIOBORO - Belakangan ini, carnivore diet sedang ramai diperbincangkan di media sosial karena terlihat meyakinkan.
Pola makan ini hanya mengandalkan makanan hewani dan benar-benar menghilangkan semua makanan nabati.
Yang boleh masuk ke piring hanyalah daging dan produk hewan.
Bagi sebagian orang, diet ini terasa sederhana dan menjanjikan hasil cepat.
Tapi di balik kesederhanaannya, muncul pertanyaan penting: apakah carnivore diet benar-benar baik untuk kesehatan?
Apa itu Carnivore Diet?
Carnivore diet adalah pola makan yang hanya mengandalkan makanan hewani dan sepenuhnya menghilangkan makanan nabati.
Dalam diet ini, seseorang hanya mengonsumsi daging merah, daging putih, ikan, seafood, telur, jeroan, serta beberapa produk susu seperti mentega dan keju.
Semua jenis sayur, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan berbahan dasar tumbuhan tidak dikonsumsi sama sekali.
Bagaimana Cara Kerja Carnivore Diet?
Tubuh manusia biasanya menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama.
Namun, saat asupan karbohidrat hampir tidak ada, tubuh dipaksa beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar.
Melansir dari Harvard Health Online, proses tersebut menghasilkan zat bernama keton dan menciptakan kondisi yang disebut ketosis.
Dalam kondisi ini, banyak orang mengalami penurunan berat badan karena tubuh lebih aktif membakar lemak.
Inilah yang membuat carnivore diet sering dianggap efektif untuk menurunkan berat badan dengan cepat.
Mengapa Banyak Orang Tertarik Mencobanya?
Daya tarik utama carnivore diet terletak pada kesederhanaannya.
Tidak perlu menghitung kalori atau memikirkan menu yang rumit, cukup makan daging sampai kenyang.
Protein dan lemak juga membuat rasa lapar datang lebih lambat, sehingga sebagian orang merasa lebih puas dan tidak sering ngemil.
Meski begitu, sebagian besar manfaat ini masih bersifat jangka pendek dan sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing.
Dampak Carnivore Diet bagi Kesehatan
Meskipun terlihat menjanjikan, carnivore diet memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan.
Menghilangkan seluruh makanan nabati berarti tubuh kehilangan sumber utama serat, vitamin, mineral, dan antioksidan.
Kekurangan serat sering menyebabkan sembelit dan gangguan pencernaan, sementara kekurangan vitamin tertentu dapat memengaruhi daya tahan tubuh, kesehatan kulit, dan fungsi organ lainnya.
Usus manusia sebenarnya dirancang untuk mencerna beragam jenis makanan, bukan hanya protein dan lemak dari daging.
Risiko Lemak Jenuh dan Protein Berlebih
Sebagian besar lemak dari daging adalah lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah.
Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Selain itu, asupan protein yang sangat tinggi dapat memberikan beban tambahan pada ginjal, terutama bagi orang yang sudah memiliki masalah ginjal sebelumnya.
Pola makan ini juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko batu ginjal, asam urat, dan penurunan kepadatan tulang jika dilakukan dalam waktu yang lama.
Tantangan Menjalani Carnivore Diet
Carnivore diet termasuk pola makan yang sangat membatasi.
Pilihan makanan yang sangat sedikit membuat banyak orang sulit mempertahankannya dalam jangka panjang.
Rasa bosan, kesulitan saat makan bersama orang lain, dan keterbatasan menu dalam kehidupan sehari-hari sering menjadi alasan orang berhenti.
Diet yang terlalu ketat juga berisiko menciptakan hubungan yang tidak sehat dengan makanan.
Dampak terhadap Lingkungan
Selain berdampak pada kesehatan, carnivore diet juga menimbulkan kekhawatiran dari sisi lingkungan.
Melansir dari health.com, produksi daging, terutama daging merah, membutuhkan sumber daya yang besar dan menyumbang emisi gas rumah kaca.
Jika pola makan ini diterapkan secara luas, dampaknya terhadap lingkungan dan perubahan iklim bisa menjadi cukup serius.
Carnivore diet mungkin memberikan hasil cepat, terutama dalam hal penurunan berat badan dan pengurangan konsumsi gula.
Namun, manfaat tersebut harus ditimbang dengan risiko kesehatan yang muncul, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang.
Tubuh manusia membutuhkan keseimbangan nutrisi dari berbagai jenis makanan.
Pola makan yang sehat bukan tentang menghilangkan satu kelompok makanan sepenuhnya, melainkan tentang menjaga variasi, kecukupan nutrisi, dan keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva