RADAR MALIOBORO - Aroma gorengan yang mengepul menjelang azan Magrib memang sulit ditolak. Dari bakwan, risol, hingga tahu isi, semuanya terasa menggoda setelah seharian berpuasa. Kebiasaan “balas dendam” dengan menyantap gorengan secara berlebihan saat buka puasa justru bisa membawa dampak yang kurang bersahabat bagi tubuh.
Saat berpuasa, sistem pencernaan berada dalam kondisi istirahat. Ketika waktu berbuka tiba, tubuh membutuhkan asupan yang ringan agar proses adaptasi berjalan lancar.
Gorengan yang tinggi lemak justru membuat kerja lambung lebih berat, sehingga tak jarang muncul rasa begah, perut kembung, hingga tidak nyaman setelah makan.
Tak hanya itu, konsumsi gorengan berlebihan juga bisa membuat tubuh cepat lelah.
Lemak jenuh dari minyak goreng membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Akibatnya, alih-alih merasa segar, tubuh justru terasa lesu dan mengantuk. Kondisi ini tentu bisa mengganggu aktivitas ibadah malam seperti salat tarawih.
Jika kebiasaan ini terus berlanjut selama Ramadan, risiko kesehatan pun meningkat.
Kadar kolesterol bisa naik, berat badan sulit terkontrol, dan metabolisme tubuh menjadi kurang optimal. Terlebih jika gorengan dikonsumsi hampir setiap hari tanpa diimbangi sayur, buah, dan asupan bergizi lainnya.
Buka puasa idealnya diawali dengan makanan yang membantu tubuh kembali “hidup”.
Air putih, kurma, buah segar, atau sup hangat bisa menjadi pilihan bijak sebelum menyantap hidangan utama. Gorengan tetap boleh hadir sebagai pelengkap, bukan menu utama, dan dikonsumsi secukupnya.
Ramadan sejatinya menjadi momen melatih pengendalian diri, termasuk dalam urusan makan.
Dengan lebih bijak memilih makanan saat berbuka, tubuh akan terasa lebih ringan, energi lebih stabil, dan ibadah pun bisa dijalani dengan khusyuk hingga akhir bulan suci.
(Aribah Zalfa Nur Aini)