Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyusuri Between Two Gates, Gang Bersejarah di Jantung Kotagede

R
Bukan Sekadar Gang, Rukunan Kotagede Menyimpan Kisah Tata Kota Mataram - Regina Renate Yosuana
Bukan Sekadar Gang, Rukunan Kotagede Menyimpan Kisah Tata Kota Mataram - Regina Renate Yosuana

Advertisement

RADAR MALIOBORO – Gang Rukunan di Kampung Alun-alun, Purbayan, menghadirkan pengalaman berbeda dari jalan besar Kotagede. Lorong ini juga dikenal pula sebagai Between Two Gates, dengan rumah-rumah tradisional yang berdiri berdekatan.

Nama “Rukunan” mengingatkan pengunjung bahwa gang tersebut juga berkaitan dengan kehidupan bertetangga. 

Kampung Alun-alun menyimpan petunjuk tentang perubahan tata kota lama. Menurut catatan cagar budaya, kawasan ini dipercaya berada di bekas alun-alun kerajaan Mataram yang kemudian berkembang menjadi permukiman. Perubahan fungsi itu membuat ruang yang dahulu terbuka kini menjadi bagian dari lingkungan rumah warga. 

Advertisement

Deretan rumah di Gang Rukunan mempertahankan unsur arsitektur tradisional Kotagede. Salah satu rumah yang tercatat sebagai bangunan cagar budaya memiliki bentuk joglo, pendopo, dan tata ruang dalem. Keberadaan bangunan-bangunan ini memberi konteks nyata untuk membicarakan cara hunian tradisional disusun.

Nama Between Two Gates, merujuk pada lorong di antara dua gerbang. Catatan cagar budaya menyebut istilah tersebut dicetuskan oleh tim peneliti arsitektur Universitas Gadjah Mada saat meneliti Kotagede pada 1986. Sementara itu, sebutan Gang Rukunan hidup di tengah masyarakat sebagai nama yang menekankan hubungan antarwarga.

Advertisement

Jalan sempit ini memiliki aturan yang penting diketahui pengunjung. Sumber cagar budaya menyebut bahwa kendaraan yang melintas harus dimatikan mesinnya dan dituntun.

Aturan tersebut membantu menjaga kenyamanan warga sekaligus mengingatkan bahwa gang ini merupakan ruang permukiman, bukan sekedar latar foto. 

Keunikan gang tidak hanya terletak pada bentuk bangunan, tetapi juga pada cara ruang digunakan bersama. Sumber yang sama menjelaskan bahwa jalur tersebut berawal dari ruang terbuka pribadi di antara dalem dan pendopo, lalu dibuka sebagai akses komunikasi bertetangga.

Cerita asal-usul ini layak dikonfirmasi lebih lanjut kepada pemandu dan warga yang memahami sejarah setempat.

Dalam peliputan ini, pemandu menunjukkan detail yang mudah terlewat saat pengunjung hanya berjalan cepat. Bentuk gerbang, susunan rumah, dan hubungan antara pendopo dengan dalem dapat membuka percakapan tentang arsitektur serta kehidupan sehari-hari. Pengamatan tersebut sebaiknya dilakukan dari ruang publik dan tanpa memasuki rumah tanpa izin.

Advertisement

Artikel Terkait

Masjid Gede Mataram, Saksi Sejarah dan Akulturasi Budaya di Yogyakarta

Masjid Gede Mataram, Saksi Sejarah dan Akulturasi Budaya di Yogyakarta

Menyusuri sejarah Masjid Gede Mataram di Kotagede, Yogyakarta, mulai dari arsitektur Jawa, jejak Mataram Islam, hingga perjalanan pelestariannya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer