YOGYA - Perekonomian Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, sementara pada semester I-2026 ekonomi tumbuh 5,45 persen.
Pertumbuhan ini menjadi momentum untuk memastikan UMKM di tingkat akar rumput memiliki kapasitas dan akses yang memadai agar dapat ikut menangkap peluang pertumbuhan ekonomi.
Peran perempuan dalam ekosistem ekonomi juga memiliki porsi yang sangat besar. Data BPS 2024 mencatat sekitar 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Namun, mayoritas masih berada pada skala mikro, sehingga penguatan kapasitas usaha, akses pasar, serta literasi dan kesehatan finansial menjadi penting agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Baca Juga: Bukan Malas Belajar, Gen Z di Bangku Kuliah Kini Dihadapkan pada Tantangan Membaca
Melihat kebutuhan tersebut, Amartha menghadirkan Usaha Naik Kelas, sebuah program yang dirancang untuk membantu wirausaha UMKM memperkuat fondasi usaha dan membuka peluang pertumbuhan.
Program ini berfokus pada tiga hal: memperkuat literasi keuangan sebagai fondasi kesehatan finansial, meningkatkan akses pasar, serta memperkuat kolaborasi multi-stakeholder untuk mendukung kesehatan finansial.
Sebagai bagian dari rangkaian tersebut, Amartha menghadirkan 'Buka Peluang' di Yogyakarta. Kegiatan ini mempertemukan perempuan pengusaha UMKM dengan offtaker dan inkubator bisnis serta organisasi pendukung dari swasta dan pemerintah untuk membantu formalisasi bisnis sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan.
Baca Juga: Bukan Cuma Mitos "Buang Sial", Alasan Psikologis Ini Bikin Cewek Ketagihan Potong Rambut Saat Stres!
“Ketika berbicara tentang solusi UMKM naik kelas, kita tidak bisa melihat hanya dari akses permodalan. Ada fondasi dan intervensi yang perlu dibangun, mulai dari kesehatan finansial, kapasitas pengelolaan usaha, legalitas, hingga keterhubungan dengan pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Amartha melihat naik kelas sebagai proses, bukan tujuan yang dicapai dalam satu langkah,” ujar Aria Widyanto, Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Jumat (28/6/2026).
Hal ini sejalan dengan komitmen Amartha sejak peluncuran Indonesia Coalition for Financial Health (ICFH) pada The 2026 Asia Grassroots Forum Juni lalu, untuk terus mendorong penguatan kesehatan finansial di tingkat akar rumput melalui kolaborasi lintas sektor sehingga dapat membantu peningkatan kesejahteraan UMKM secara berkelanjutan.
Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Lokal, DPRD Kota Jogja Wadahi Pengembangan Kuliner Tradisional Jadi Daya Tarik Wisa
Memperkuat Fondasi, Membuka Peluang Ekonomi
Salah satu fokus program Usaha Naik Kelas ialah memperkuat kesehatan finansial UMKM, meliputi pendapatan, tabungan, ketahanan finansial, pertumbuhan usaha, kemandirian dan kepercayaan diri. Pendekatan ini membantu UMKM memahami kondisi bisnis sekaligus mengidentifikasi kebutuhan untuk bertumbuh.
Kebutuhan ini juga tercermin secara nasional. SNLIK 2025 OJK dan BPS mencatat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di 66,46 persen, menunjukkan pentingnya memperkuat pemahaman dan kemampuan mengelola keuangan seiring dengan perluasan akses.
Dalam program ini, Amartha bersama KemenPPPA dan Women’s World Banking (WWB) juga mendorong kesiapan usaha melalui formalisasi bisnis. Peserta mendapatkan edukasi dan fasilitas NIB, termasuk pemahaman mengenai persyaratan perizinan produk seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Baca Juga: Lagu "Astaga Bercanda" Mendunia, Thomas Müller hingga Seunghan Ikut Ramaikan Tren TikTok
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengapresiasi Amartha, Women’s World Banking (WWB), dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Usaha Naik Kelas 2026.
“Pemberdayaan UMKM perempuan tidak cukup hanya mendorong perempuan untuk memulai usaha, tetapi juga memastikan usaha mereka dapat tumbuh, berdaya saing, dan memperluas akses pasar. Karena itu, penguatan UMKM perempuan perlu dilakukan melalui peningkatan legalitas, kapasitas usaha, pengelolaan keuangan, jejaring, dan akses pasar. NIB bukan sekadar nomor, tetapi identitas usaha dan salah satu pintu menuju pasar yang lebih luas,” ujar Eni Widiyanti, Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Perekonomian, Infrastruktur, dan Pembangunan Kewilayahan dan Pemerintah Daerah Wilayah I.
"Ketika perempuan mampu mengelola keuangan, menghadapi guncangan, merencanakan masa depan, dan memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan keuangan, mereka akan lebih siap memanfaatkan peluang untuk mengembangkan usahanya. Kami melihat, kesiapan usaha dan formalisasi menjadi fondasi dalam membangun kesejahteraan keuangan bagi perempuan pengusaha UMKM," jelas Vitasari Anggraeni, Director of Policy, Southeast Asia, Women's World Banking (WWB).
Baca Juga: Lagu "Astaga Bercanda" Mendunia, Thomas Müller hingga Seunghan Ikut Ramaikan Tren TikTok
Program lokakarya Buka Peluang ini juga mempertemukan UMKM dengan calon mitra pasar untuk memahami standar produk, kebutuhan pengadaan, kesiapan memasuki pasar yang lebih luas dan digital financial literacy melalui handbook Usaha Naik Kelas. Di Yogyakarta, kegiatan ini melibatkan Agradaya, Krisna, dan Pasaraya sebagai mitra dan calon offtaker.
“Dari data kami, tanpa adanya intervensi dan kolaborasi strategis antarpemangku kepentingan, tingkat keberhasilan naik kelas pengusaha ultra-mikro hanya sekitar 3%. Melalui program Usaha Naik Kelas ini dan lokakarya Buka Peluang, Amartha ingin membantu mereka lebih siap tumbuh dan terhubung dengan ekosistem pendukungnya. Saat ini, per tahun rata-rata 13 ribu mitra Amartha telah berkembang dari usaha ultra mikro menjadi usaha mikro dan kecil. Ke depan, kami ingin mendorong lebih banyak perempuan pengusaha ultra-mikro untuk naik kelas, memperkuat usahanya, dan membuka peluang yang lebih besar,” tutup Aria.
Editor : Heru Pratomo