RADAR MALIOBORO - Teman-teman mungkin tidak asing dengan Griffin atau bisa juga disebut Gryphon (bahasa Yunani: gryphos, "singa-rajawali") yang merupakan makhluk mitologis bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala rajawali. Selayaknya singa, makhluk ini menjadi "raja hewan buas" dan sebagai burung rajawali, ia menjadi "raja di udara". Oleh sebab itu, Griffin merupakan penggambaran makhluk yang paling berkuasa atas kedua hal tersebut dan dijuluki sebagai "Raja hewan buas dan penguasa udara". Namun tahukah kamu bahwa dalam sejarah Indonesia ada juga makhluk mitologi yang mirip dengan griffin, yaitu Lembuswana.
Lembuswana adalah makhluk mitologis dalam budaya Nusantara khususnya Kalimantan Timur, terlebih di kalangan masyarakat Kutai. Ia dianggap sebagai tunggangan Raja Mulawarman yaitu pemimpin kerajaan kutai, dimana kerjaan tersebut masuk kedalam salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini didirikan sekitar abad ke-4 Masehi. Lembuswana juga seringkali dikaitkan dengan simbol kekuatan serta kedaulatan. Lembuswana digambarkan sebagai makhluk gabungan yang memiliki tubuh seekor lembu, bersayap seperti burung, berkepala gajah dengan belalai, berwarna keemasan dan bermahkota. Lembuswana melambangkan perlindungan alam dan keseimbangan ekosistem. Di beberapa tulisan Lembuswana juga digambarkan memiliki sirip ikan, yang menandakan keterkaitannya dengan elemen air.
Sedangkan dalam mitologi Hindu, Lembuswana berfungsi sebagai kendaraan Dewa Wisnu, mencerminkan hubungan antara manusia dan alam. Mahkota yang dikenakan Lembuswana memiliki makna simbolis yang mendalam dalam mitologi Kutai. Mahkota ini melambangkan kekuasaan, kehormatan, dan status sebagai makhluk suci. Lembuswana sendiri dianggap sebagai tunggangan Raja Mulawarman dan simbol kerajaan, mencerminkan hubungan antara kekuasaan duniawi dan spiritual.
Dalam konteks ini, mahkota juga menunjukkan peran Lembuswana sebagai kendaraan Dewa Wisnu, yang menekankan pentingnya perlindungan dan keseimbangan alam. Dengan demikian, mahkota Lembuswana tidak hanya menjadi simbol kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan
Peran Lembuswana
1. Pelindung Kerajaan, Lembuswana dianggap sebagai makhluk pelindung yang menjaga kerajaan dan rakyat Kutai. Ia dipercayai memiliki kekuatan supranatural yang melindungi dari ancaman dan musuh.
2. Penghubung Dunia, Makhluk ini juga dipandang sebagai penjaga antara dunia manusia dan dunia spiritual, menandakan keseimbangan antara elemen darat dan air, serta kekuatan dan kebijaksanaan.
Filosofi Lembuswana
1. Keseimbangan Alam, dengan elemen-elemen darat udara, dan air, dari penggambarannya yang gabungan beberapa jenis hewan, Lembuswana melambangkan keseimbangan antara berbagai elemen alam. Ini mencerminkan keharmonisan yang diidamkan dalam kehidupan masyarakat Kutai.
2. Kekuatan, Lembuswana adalah simbol kekuatan dan perlindungan, menggarisbawahi peran raja dan penguasa sebagai pelindung rakyat dan tanah mereka.
3. Kebijaksanaan, Makhluk ini juga mewakili kebijaksanaan, dengan kombinasi atribut yang mengingatkan pada makhluk mitologis yang kuat dan bijak dalam mitologi Hindu-Buddha.
Baik Lembuswana maupun Griffin berfungsi sebagai penjaga atau pelindung dalam mitologi mereka masing-masing, menunjukkan peran mereka dalam menjaga keseimbangan dan melindungi dari ancaman. Keduanya melambangkan kekuatan dan perlindungan, serta memiliki elemen gabungan dari berbagai hewan yang memberikan mereka kekuatan simbolis.
(Rumyanah Irvadia)
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Iwa Ikhwanudin