RADAR MALIOBORO— Hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya seseorang dihadapkan pada cobaan yang datang bertubi-tubi hingga memunculkan pertanyaan, “Kenapa hidupku seperti ini?” Dalam budaya Jawa, kegelisahan semacam ini dijawab lewat sebuah filosofi hidup bernama nrimo ing pandum.
Nrimo ing pandum merupakan salah satu sesanti Jawa yang mengajarkan sikap menerima kehidupan dengan hati yang ikhlas dan lapang. Namun, konsep ini kerap disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, makna sejatinya jauh lebih dalam.
Secara harfiah, nrimo berarti menerima apa adanya, sedangkan pandum bermakna bagian atau pemberian. Filosofi ini mengajarkan manusia untuk menerima segala ketentuan Tuhan dengan penuh rasa syukur, tanpa mengeluh atau iri terhadap kehidupan orang lain, setelah melakukan usaha terbaik.
Dalam praktiknya, nrimo ing pandum bukan berarti berhenti berjuang. Justru, nilai ini menekankan keseimbangan antara ikhtiar dan keikhlasan. Manusia tetap diwajibkan berusaha, namun juga perlu belajar merelakan hasil yang tak selalu sesuai harapan.
Nilai utama dalam filosofi ini mencakup kesabaran, rasa syukur, dan penerimaan. Sikap tersebut diyakini mampu menjaga kestabilan mental, membantu seseorang lebih tenang menghadapi kenyataan hidup yang kerap berada di luar kendali.
Di tengah tekanan hidup modern yang serba cepat dan kompetitif, nrimo ing pandum menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus dilawan dengan amarah atau penyesalan. Terkadang, menerima dengan ikhlas justru membuka jalan untuk bertumbuh dan menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Filosofi Jawa ini mengajarkan bahwa menerima bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam menjalani hidup.
(Alena Mutiara)
Editor : Iwa Ikhwanudin