Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Festival Sinema Prancis 2025 Hadir di 14 Provinsi, Perkenalkan Kekayaan Film dan Budaya kepada Indonesia

Magang Radar Malioboro • Jumat, 28 November 2025 | 04:12 WIB
Bernadetta Ivana MG8 Clara Christa Melati Putri
Bernadetta Ivana MG8 Clara Christa Melati Putri

JOGJA – Film Prancis kembali memikat penonton Indonesia melalui Festival Sinema Prancis 2025. Festival yang diselenggarakan Institut Français Indonésie (IFI) ini berlangsung mulai 21 November hingga 2 Desember 2025 di 14 provinsi, termasuk Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Festival tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Prancis dan memasuki edisi ke-27, menjadikannya festival asing tertua di Indonesia.

Festival menayangkan beragam film Prancis dari klasik hingga terbaru, dengan berbagai genre yang menyoroti cinta, eksistensialisme, dan kehidupan manusia.

“Bahkan untuk opening festival kami memutarkan film 13 Days, 13 Nights (13 jours, 13 nuits). Film ini tayang perdana saat pembukaan festival, kemudian akan tayang secara komersial di bioskop jaringan XXI bulan Desember,” ujar Intan Devi, Asisten Direksi IFI Yogyakarta.

Menurut Devi, festival ini tidak hanya menghadirkan film, tetapi juga menjadi wadah belajar dan kolaborasi.

“Melalui Indonesia-France Lab, kami memberikan mentoring dunia perfilman untuk 15 sutradara dan produser muda Indonesia. Ini kesempatan bagi mereka untuk belajar langsung dari praktisi film Prancis,” jelas Devi.

Selain itu, festival menampilkan kolaborasi orkestra antara komposer Prancis dan Yogyakarta Royal Orchestra, memperkuat pertukaran budaya antara kedua negara. Devi menambahkan, festival ini juga menggandeng komunitas film lokal untuk memperluas jangkauan audiens, terutama bagi penonton muda yang baru mengenal sinema Prancis.

Festival Sinema Prancis 2025 juga menghadirkan pemutaran film di berbagai venue, termasuk Auditorium IFI Yogyakarta, MM Cine Club Kulon Progo, Kinedoscope UMY, Cinekom UGM, Fisipol, ISI Yogyakarta, dan Cineloka Surakarta.

Devi menegaskan pentingnya festival ini bagi masyarakat Indonesia. “Film Prancis masih sulit diakses oleh sebagian besar penonton Indonesia. Festival ini menjadi jembatan agar publik dapat menikmati estetika dan narasi sinema Prancis, sekaligus membuka wawasan terhadap gaya bercerita dan tradisi perfilman yang berbeda,” ujarnya.

IFI berharap melalui festival ini, dialog budaya antara Indonesia dan Prancis semakin kuat. “Semakin banyak penonton terlibat, semakin besar peluang terciptanya pertukaran budaya yang bermakna melalui film,” pungkas Devi.

Bernadetta Ivana, Clara Christa Melati Putri

 

Editor : Heru Pratomo
#yogyakarta #IFI #xxi #festival sinema prancis #devi