RADAR JOGJA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memiliki gaya kepemimpinan yang tegas, sederhana, dan dekat dengan rakyat kecil.
Dia juga punya selera fesyen tersendiri.
Dedi Mulyadi sering menggunakan ikat kepala putih di setiap kegiatannya.
Politikus Partai Gerindra ini, mengungkapkan alasan gaya kepemimpinan hingga alasan menggunakan ikat kepala putih.
Untuk gaya kepemimpinan dia terinspirasi dari tokoh Semar.
Dedi pun menggambarkan sosok Semar di matanya.
"Dia (Semar, Red) memilih tinggal di kampung Tumaritis. Dia orang yang memiliki kualifikasi manusia atau tokoh sempurna dalam pewayangan, namanya Lurah Semar Badranaya," ujar Dedi dalam sebuah kegiatan di Universitas Padjadjaran, Bandung pada 11 November 2024 lalu.
Menurutnya, Semar memiliki rambut kuncung atau jambul kareba menunjukkan perjalanan hidupnya yang sederhana sekalipun dirinya perlambang sosok manusia mulia.
"Bahkan jabatannya hanya sebagai Lurah. Dia manusia mulia yang tidak pernah memperlihatkan kemuliaannya. Ia lebih memilih menjadi manusia yang berguna menanam padi, memelihara ikan, domba, sapi dan membangun desa," ujar Dedi.
Adapun ikat kepala yang dipakai Dedi Mulyadi merupakan Totopong atau Iket Sunda.
Nama "Totopong" dalam bahasa Sunda berarti "menggunakan tutup kepala menurut aturan tertentu".
Kata "iket" sendiri berarti "ikat" atau "ikatan".
Dilansir beragam sumber, Totopong atau Iket Sunda adalah penutup kepala tradisional khas masyarakat Sunda yang terbuat dari kain berbentuk bujur sangkar yang diikat atau dilipat dengan teknik tertentu.
Totopong telah menjadi bagian dari budaya Sunda sejak zaman kerajaan di Tatar Parahyangan.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa pada zaman dahulu, bentuk iket mencerminkan kelas sosial pemakainya.
Filosofi dan Makna Totopong bukan hanya sekadar penutup kepala, tetapi juga memiliki filosofi dan makna yang mendalam bagi masyarakat Sunda.
Salah satu filosofi yang dipercaya adalah sebagai pengikat hawa nafsu untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Totopong juga dianggap sebagai representasi estetika budaya Sunda yang di dalamnya terkandung nilai-nilai tentang kesemestaan, ketuhanan, dan kebenaran.
Sejumlah sumber mengatakan, filosofi "Opat Kalima Pancer" melambangkan empat unsur alam dan diri manusia dalam iket.
Totopong atau Iket Sunda juga dapat menjadi simbol status sosial dan penghormatan terhadap kedudukan seseorang. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva