Kapolsek Sindangkerta, Iptu Sholehuddin, mengungkapkan korban keracunan massal mayoritas berasal dari kalangan pelajar.
Mulai jenjang SD, MTs, SMP hingga SMK yang berada di wilayah Cipongkor ikut terdampak.
Data terakhir yang dihimpun sampai pukul 23.56 WIB mencatat ratusan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan ikut menjadi korban.
"Jumlah korban keracunan sampai dengan pukul 23.56 WIB sebanyak 301 orang yang terdiri dari berbagai siswa sekolah mulai tingkat SD, MTs, SMP, dan SMK," ujar Sholehuddin di Kecamatan Cipongkor, KBB, Senin malam.
Sholehuddin memperkirakan jumlah korban belum berhenti di angka sekarang. Pasalnya, hingga Senin malam, masih terlihat siswa terus berdatangan ke posko-posko kesehatan untuk mendapat perawatan.
"Korban yang datang ke posko Kecamatan sampai saat ini masih berdatangan dan dimungkinkan jumlah korban keracunan akan terus bertambah," ungkap Sholehuddin.
Di sisi lain, petugas gabungan dari kepolisian, Dinas Kesehatan, hingga pemerintah daerah masih sibuk melakukan pendataan. Mereka juga memberikan penanganan medis kepada para siswa yang terdampak.
Sementara itu, penyebab pasti insiden keracunan massal ini masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut.
Pemerintah menyampaikan permohonan maaf terkait persoalan makan bergizi gratis. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
"Kami atas namanya pemerintah dan mewakili Badan Gizi Nasional (BGN) memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah," kata Pras di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 19 September 2025.
Pras menegaskan peristiwa keracunan pada program MBG yang dialami sejumlah siswa tidak pernah diharapkan dan bukan kesengajaan.
Dia menyebut seluruh kejadian keracunan itu akan menjadi bahan catatan dan evaluasi pemerintah.
Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh
Editor : Bahana.