RADAR MALIOBORO - Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono resmi mengemban jabatan baru sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah mengucapkan sumpah jabatan pada Senin (9/2/2026) di Mahkamah Agung (MA), Jakarta Pusat.
Melansir siaran pers Bank Indonesia, prosesi pengucapan sumpah dilakukan di hadapan Ketua MA, Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., dan menjadi penanda dimulainya peran baru Thomas di jajaran pimpinan bank sentral Indonesia.
Sebelum dilantik, Thomas diketahui menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Dalam posisi tersebut, ia juga menjalankan peran strategis lain sebagai Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara ex-officio dari Kementerian Keuangan.
Pengalaman ini menjadi salah satu bekal yang dibawa Thomas saat memasuki lingkungan Bank Indonesia, meski perannya kini lebih berfokus pada kebijakan moneter dan stabilitas keuangan.
Penunjukan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10/P Tahun 2026 yang ditandatangani pada 3 Februari 2026.
Dengan keputusan tersebut, Thomas menggantikan posisi Juda Agung, yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan Deputi Gubernur BI.
Pergantian ini menjadi bagian dari dinamika rotasi pejabat tinggi negara di sektor keuangan dan moneter.
Pelantikan Thomas juga menambah daftar susunan terbaru Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Saat ini, posisi Gubernur BI dijabat oleh Perry Warjiyo, dengan Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur Senior.
Sementara jajaran Deputi Gubernur diisi oleh Aida S. Budiman, Filianingsih Hendarta, Ricky Perdana Gozali, dan Thomas A.M. Djiwandono.
Sebelum resmi menduduki jabatan barunya, Thomas harus melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di hadapan Komisi XI DPR RI.
Melansir Antara News, proses ini berlangsung pada 26 Januari 2026, di mana Thomas bersaing dengan kandidat lain dari internal Bank Indonesia.
Setelah rangkaian uji tersebut, DPR RI akhirnya menyetujui Thomas sebagai Deputi Gubernur BI melalui Rapat Paripurna DPR RI pada 27 Januari 2026.
Dalam beberapa kesempatan kepada media, Thomas secara terbuka mengakui bahwa dirinya tidak memiliki latar belakang langsung di bidang moneter.
Namun, ia menyampaikan keyakinannya bahwa pengalaman selama 1,5 tahun di Kementerian Keuangan dapat menjadi kekuatan pelengkap dalam perumusan kebijakan bank sentral.
Menurut Thomas, pengalaman di sektor fiskal justru bisa memperkaya bauran kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Bank Indonesia.
“Saya itu rekam jejak fiskal ga ada. Selalu rekam jejak moneter ga ada itu. rekam jejak saya 1,5 tahun di Kemenkeu silahkan dilihat. Saya ga punya pengalaman moneter saya ga bisa pungkiri tapi saya punya kapabilitas lain yang bisa dilengkapi dan pengalaman di fiskal yang cukup dalam,” ujar Thomas.
Thomas juga menegaskan bahwa keputusannya maju sebagai calon Deputi Gubernur BI bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan.
Ia menyebut tidak akan melanjutkan pencalonan jika merasa dirinya tidak mampu.
Keyakinan atas kapasitas dan pengalamannya menjadi alasan utama ia bersedia menjalani seluruh proses seleksi hingga akhirnya dilantik secara resmi.
Di sisi lain, penunjukan Thomas Djiwandono juga tak lepas dari sorotan publik karena latar belakang keluarganya.
Ia dikenal sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto.
Thomas merupakan anak dari Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia, yang juga memiliki hubungan keluarga dekat dengan Prabowo.
Selain itu, Thomas tercatat sebagai cicit dari R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI).
Meski memiliki latar belakang politik, Thomas menegaskan dirinya telah mengundurkan diri dari Partai Gerindra sejak 31 Desember 2025, jauh sebelum ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Langkah tersebut ia ambil sebagai bentuk komitmen menjaga independensi dan profesionalisme, khususnya dalam menjalankan peran di lembaga yang dituntut bebas dari kepentingan politik praktis.
Secara rekam jejak Thomas memiliki perjalanan karier yang cukup beragam.
Ia mengawali karier sebagai wartawan, kemudian beralih ke dunia analisis keuangan internasional, hingga menduduki posisi penting di sektor korporasi dan pemerintahan.
Dengan latar belakang pendidikan di bidang sejarah, hubungan internasional, dan ekonomi internasional, Thomas kini dihadapkan pada tantangan besar dalam menjalankan tugas barunya sebagai salah satu pengambil keputusan penting di Bank Indonesia. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva