YOGYAKARTA – Puluhan pedagang kaki lima dan tukang parkir di kawasan Titik Nol Kilometer serta TKP Senopati, Yogyakarta, turun mengadu nasib ke Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkot Yogyakarta.
Mereka memprotes kebijakan larangan bus wisata melintas dan parkir di area tersebut yang berlaku sejak 14 Maret 2026.
Aksi protes tersebut terjadi Jumat (27/3/2026) pagi.
Dalam video yang beredar, terlihat para pedagang dan tukang parkir duduk di depan kantor Dishub Pemkot Jogja sambil menyampaikan keluhan mereka.
Menurut akun @titiknol_jogja yang sering menyuarakan isu Sumbu Filosofi, kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Nota Dinas (ND) penataan World Heritage Sumbu Filosofi yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO.
Tujuannya mensterilkan kawasan inti Sumbu Filosofi agar lebih rapi, bebas dari kepadatan kendaraan besar, dan menjaga nilai filosofis serta budaya adiluhung.
Bus wisata kini dialihkan ke TKP Ngabean dan eks Menara Kopi.
Sementara itu, area TKP Senopati tetap terbuka untuk kendaraan roda empat pribadi wisatawan, namun tanpa kehadiran bus besar, aktivitas ekonomi kecil-kecilan langsung terdampak.
“Setiap tempat orang kecil cari makan akan segera dihapus, agar tidak ada orang miskin di Sumbu Filosofi. Bukan begitu?” tulis @titiknol_jogja dalam unggahannya, yang juga menandai akun resmi Pemkot Jogja, Kraton Yogyakarta, dan related stakeholder.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Kecil
Para pedagang dan tukang parkir mengkhawatirkan penurunan drastis jumlah wisatawan yang datang menggunakan bus.
Selama ini, bus wisata menjadi sumber utama pelanggan bagi warung makan, pedagang souvenir, dan jasa parkir di sekitar Titik Nol Kilometer dan Senopati.
Beberapa warga menyebut kebijakan ini justru menghilangkan mata pencaharian masyarakat kecil demi “menyembunyikan kemiskinan” di kawasan heritage.
Padahal, menurut mereka, pariwisata Jogja selama ini sangat bergantung pada aksesibilitas bus wisata yang mudah mencapai titik nol.
Pemkot Yogyakarta sebelumnya menegaskan bahwa larangan ini bertujuan mengurangi kemacetan, menata pedagang, serta memperbaiki manajemen sampah di kawasan padat wisatawan.
Kebijakan uji coba ini juga diantisipasi untuk mengurai kepadatan menjelang dan saat libur Lebaran 2026.
Respons dan Harapan Masyarakat
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Dishub Pemkot Yogyakarta mengenai hasil pertemuan dengan para pedagang dan tukang parkir tersebut.
Masyarakat sekitar berharap pemerintah memberikan solusi konkret, seperti program pemberdayaan ekonomi alternatif atau kompensasi sementara bagi yang terdampak, agar penataan Sumbu Filosofi tidak justru mematikan roda perekonomian rakyat kecil.
Kawasan Titik Nol Kilometer dan Sumbu Filosofi memang menjadi ikon utama pariwisata Yogyakarta.
Penataan yang baik diharapkan dapat menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat lokal. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin