Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengenal Situs Arkeologi Sangiran: Jejak Manusia Purba di Jawa Tengah

Winda Atika Ira Puspita • Rabu, 3 Juli 2024 - 01:15 WIB
Sangiran II, fosil tengkorak bagian atas Homo Erectus, temuan fosil di Trinil, dan gambaran hidup dari manusia purba Jawa.
Sangiran II, fosil tengkorak bagian atas Homo Erectus, temuan fosil di Trinil, dan gambaran hidup dari manusia purba Jawa.

RADAR MALIOBORO - Situs Arkeologi Sangiran, yang terletak di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, adalah salah satu situs manusia purba terpenting di dunia.

Telah masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1996 dengan nama The Sangiran Early Man Site, Sangiran menawarkan pandangan mendalam ke dalam kehidupan dan jejak prasejarah di pulau Jawa.

Sejarah Penemuan

Situs Sangiran pertama kali ditemukan oleh seorang geolog Belanda, Eugene Dubois, pada akhir abad ke-19.

Pada tahun 1891, Dubois menemukan tengkorak dan tulang paha manusia purba di Trinil, Ngawi, yang kemudian dikenal sebagai Pithecanthropus erectus atau manusia Jawa.

Pada tahun 1930-an, penelitian di Sangiran dilanjutkan oleh paleontolog Jerman, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald.

Ia menemukan fosil penting seperti Meganthropus palaeojavanicus, yang berarti manusia raksasa dari Jawa.

Pentingnya Sangiran

Sangiran menjadi situs penting karena sekitar 50 persen fosil Homo erectus dunia ditemukan di sini. Fosil manusia purba ini diketahui berusia sekitar 1,5 juta tahun, memberikan wawasan berharga tentang evolusi manusia.

Selain fosil Homo erectus, Sangiran juga menjadi tempat penemuan fosil fauna prasejarah dan artefak budaya yang menggambarkan kehidupan manusia purba di Jawa.

Keberadaan fauna masa lalu di Sangiran diketahui dari fosil yang ditemukan pada berbagai lapisan tanah, dari lapisan tertua formasi Kalibeng yang berumur 2,4 juta tahun hingga lapisan Notopuro yang berumur antara 250.000-70.000 tahun.

Baca Juga: Pencegahan Gagal Ginjal Sejak Dini: Ini Dia Langkah Penting yang Perlu Diketahui

Pada 2,4 juta tahun lalu, Sangiran adalah perairan laut dalam, sehingga terdapat fosil hewan air seperti hiu, penyu, moluska, dan kerang mutiara raksasa.

Di lapisan yang lebih muda, ditemukan hewan rawa seperti kepiting, buaya muara, buaya sungai, dan kuda air.

Hewan darat seperti gajah, kerbau, banteng, rusa, kijang, badak, babi, dan harimau mulai muncul pada masa yang lebih muda lagi, menunjukkan bahwa manusia dan hewan purba hidup berdampingan, dengan banyak fauna menjadi hewan buruan.

Museum Sangiran

Museum Purbakala Sangiran didirikan untuk memamerkan temuan-temuan penting dari situs ini. Museum ini menyediakan berbagai informasi tentang kehidupan prasejarah, evolusi manusia, dan kondisi geologis Sangiran.

Pengunjung dapat melihat replika fosil, artefak batu, dan presentasi interaktif yang menggambarkan proses evolusi.

Penelitian di Sangiran masih berlangsung hingga kini. Ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu terus mengungkap lapisan sejarah yang terkubur di situs ini.

Setiap penemuan baru menambah pengetahuan kita tentang sejarah manusia dan lingkungan purba.

Sangiran adalah jendela masa lalu yang membuka tabir tentang evolusi manusia dan kehidupan prasejarah di Indonesia, khususnya Jawa. (Rinda Martisa Fiorentina)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#jejak manusia #Warisan Dunia UNESCO #dunia #Situs Arkeologi Sangiran #kabupaten sragen #Situs manusia purba #jejak prasejarah di pulau Jawa #Mengenal #jawa tengah #karanganyar