RADAR MALIOBORO - Banyak yang mengira bahwa Stasiun Tugu adalah stasiun kereta api tertua di Yogyakarta. Namun, fakta sebenarnya adalah Stasiun Lempuyangan, yang berdiri kokoh sejak 2 Maret 1872.
Dengan sejarah yang panjang dan kaya, stasiun ini memiliki peran penting dalam perkembangan transportasi dan ekonomi di Yogyakarta pada masa kolonial Hindia Belanda.
Stasiun Lempuyangan didirikan oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebagai titik akhir jalur kereta api lintas Semarang–Solo–Yogyakarta. Pada era 1870-an, banyak industri gula yang bermunculan di Yogyakarta, yang seluruhnya dikelola oleh Belanda.
Stasiun ini didirikan untuk mendukung kebijakan pengangkutan gula menggunakan kereta api, yang kemudian turut andil dalam pembangunan masyarakat Kota Yogyakarta pada masa itu.
Stasiun Lempuyangan berlokasi di Jl. Lempuyangan no 1, Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan stasiun ini mencerminkan gaya arsitektur Indis, yaitu gaya kolonial dengan tambahan kanopi atau tritisan untuk menghalangi sinar matahari dan air hujan.
Renovasi telah dilakukan pada bagian lantai dan penambahan sarana penunjang untuk menyesuaikan dengan padatnya aktivitas stasiun.
Pada awalnya, Stasiun Lempuyangan berfungsi sebagai pusat pelayanan pengantaran barang-barang komoditi dari pabrik-pabrik gula di Yogyakarta menuju pelabuhan di Semarang.
Baru pada tahun 1900-an, stasiun ini berkembang menjadi angkutan penumpang. Saat ini, stasiun ini melayani rute hingga Jakarta-Surabaya, menjadikannya salah satu stasiun yang sibuk di Yogyakarta.
Salah satu ciri khas dari Stasiun Lempuyangan adalah bel kedatangan yang memainkan instrumental lagu karya Ismail Marzuki berjudul “Sepasang Mata Bola.” Lagu ini diaransemen oleh YouTuber keroncong Purwaka Music, menambah sentuhan khas yang membedakan stasiun ini dari yang lain.
Baca Juga: Mengenal Desa Wisata Manding di Bantul: Menyelami Keindahan dan Tradisi Kerajinan Kulit Jogja
Stasiun Lempuyangan bukan hanya stasiun kereta api tertua di Yogyakarta, tetapi juga saksi bisu perkembangan ekonomi dan transportasi di kota ini.
(Rinda Martisa Fiorentina)
Sumber: dikutip dari jogjacagar.jogjaprov.go.id
Editor : Iwa Ikhwanudin