RADAR MALIOBORO - Warna pink yang saat ini diasosiasikan dengan feminitas, memiliki sejarah yang menunjukkan bahwa warna ini pernah dianggap sebagai warna maskulinitas dalam beberapa budaya dan waktu tertentu.
Pada abad ke-18, pink tidak memiliki asosiasi gender yang kuat. Baik laki-laki maupun perempuan dari kelas atas kerap menggunakan warna pink.
Pada masa itu, pink dianggap sebagai warna yang netral dan bahkan kuat. Kerap dipakai oleh laki-laki sebagai simbol kekayaan dan status sosial.
Warna pink yang merupakan turunan dari merah kerap diasosiasikan dengan keberanian dan semangat.
Merah yang menjadi warna dasar dari pink, memiliki konotasi agresif dan berani yang dianggap cocok untuk laki-laki. Dalam konteks ini, pink dipandang sebagai warna maskulin.
Pada awal abad ke-20, terutama setelah Perang Dunia II, terjadi perubahan besar dalam persepsi warna.
Sekitar tahun 1940 hingga 1950-an, warna pink mulai dipromosikan sebagai warna untuk perempuan, sementara biru menjadi warna laki-laki.
Hal ini terjadi seiring dengan munculnya kode warna gender dalam pakaian anak-anak.
Di beberapa budaya modern, seperti di Korea Selatan dan India, pink masih dipandang sebagai warna yang bisa dikenakan oleh laki-laki.
Di India, misalnya, pengantin laki-laki terkadang mengenakan sorban berwarna pink pada hari pernikahan.
Ini menunjukkan bahwa meski ada stigma di banyak tempat tentang laki-laki yang mengenakan warna pink, masih ada budaya dimana warna ini diterima secara maskulin.
Beberapa komunitas kontemporer juga menantang stereotip ini dengan mengenakan pakaian berwarna pink dalam konteks kegiatan yang biasanya dianggap maskulin.
Misal, komunitas pendaki gunung Pink Hikers di Tanah Air yang mengenakan peralatan berwarna pink saat mendaki gunung untuk menunjukkan bahwa warna tidak harus terkait pada gender tertentu.
Meski saat ini banyak orang menganggap pink sebagai warna feminin, sejarah menunjukkan bahwa ia pernah dianggap maskulin dalam konteks tertentu.
Perubahan persepsi ini sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan pemasaran.
Di beberapa budaya modern, pink masih bisa diterima sebagai warna maskulin.
Hal ini menunjukkan bahwa definisi gender terkait warna bisa bervariasi tergantung pada konteks budaya dan waktu. (Ruhana Maysarotul Muwafaqoh)
Editor : Meitika Candra Lantiva